Muda | Islami | Inspiratif | Ideal | Aktif
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic
by : BTF

Langit Kelabu: Sawit, Banjir dan Cinta Segi Tiga

Posted by Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd. Senin, 04 Januari 2010, under | 0 komentar
Membaca novel Langit Kelabu karya Olyrinson, novel ini masuk nominasi Ganti Award 2008, menarik kita dalam dialetikal dunia faktual yang difiktifkan (meminjam komentar Alang Rizal tentang novel ini). Demikian adanya, novel ini menyuguhkan tentang kehidupan buruh tani penggarap perkebunan sawit. Pekerjaan kasar, bergumul tanah rawa, ratusan ribu bibit sawit dan semua rutinitas yang menjemukan di tengah perkebunan yang tersuruk di pedalaman Kecamatan Mandau.

Semua kisah mengalir datar sebelum musim hujan akhir tahun meninggikan konflik. Sepasang ibu anak perantauan dari Gunung Sitoli, Nias, diseret terlibat perang dingin dengan letupan-letupan nakal api cemburu. Deru api cemburu kian memuncak dan alam pun kian mengamuk mengirimkan hujan yang tak henti bermalam-malam. Sampai semuanya memuncak dalam semalam.

Meliana gadis 12 tahun yang baru pertama mendapatkan darah haidnya. Sungguh itu adalah pengalaman seumur-umur yang tak membuat nyaman. Dia pun mulai diikat oleh pituah sang ibu, yang mengharuskannya menjaga sikap dan tidak boleh dekat-dekat dengan lelaki dewasa. Pantangan kedua ini yang menjadi kerisauan hati Meliana. Pasalnya dia mempunyai seorang sahabat baik, Pelianus, yang juga termasuk lelaki yang harus dijauhinya. Dan, Meliana benar-benar menjauh dan bersikap dingin terhadap Pelianus sejak itu. Penyebabnya bukan hanya pantangan tak boleh dekat-dekat dengan lelaki, tapi lebih dikarenakan ada lelaki tampan, dewasa, baik hati dan operator alat berat.

Hujan yang terus rajin membasahi hari-hari bulan Desember dan ancaman luapan Sungai Sintong merupakan keresahan bagai pekerja kebun sawit. Terutama bagi pemilik perkebunan sawit yang telah menanam modal milyaran rupiah. Tak mau rugi, pemilik kebun mendatangkan dua alat berat untuk menggali parit dan membuat tanggul yang cukup tinggi. Tanggul itu diniatkan untuk melindungi ratusan ribu bibit sawit yang belum ditanam.

Target pembuatan tanggul itu direncanakan seminggu. Karena air terus meninggi tanggul yang ada tidak sanggup lagi menahan curahan air hujan dan luapan Sungai Sintong. Selama pengerjaan tanggul itu, kedua operator akan tidur di barak kosong yang sehari-hari digunakan untuk istirahat siang oleh pekerja lepas. Untuk mengurusi makan kedua operator alat berat itu, diserahkan kepada ibunya Meliana. Karena memang baraknya yang paling dekat dengan tempat pembuatan tanggul tersebut.

Kehadiran kedua operator itu mengusik ketenangan hati Meliana. Tentu bukan Pak Mandan, operator yang lebih tua yang telah punya dua orang anak walau senyumnya penuh kharisna. Yang merebut hati dan perhatian Meliana adalah Karyono, yang mudah tersenyum yang selalu memanggilnya “Gadis Cantik”. Seketika Meliana melambung mendengarkan perkataan pujian yang seumur-umur belum pernah didengarnya. Namun sepertinya dia harus berhadapan dengan si ibu yang juga menaruh perhatian dan selalu mencari-cari perhatian operator muda itu. Meliana cemburu.

Pelianus tidak lagi mendapatkan tempat, posisinya telah digeser Karyono. Semua kenangan anak-anak mereka seakan terkikis bersama datangnya banjir yang kian bertambah tinggi. Sampai pada suatu sore, Pelianus berhasil menyelamatkan nyawa Meliana dari terkaman ular kobra. Sejak itu juga mereka tidak bisa bertemu kembali untuk selamanya karena malam harinya Pelianus ditemukan sudah menjadi mayat karena dipatok ular berbisa.

Penyesalan seketika menyeruak di dada Meliana. Limbung dengan perasan galaunya sendiri dia menyendiri duduk termangu di atas tanggul. Malam itu juga dia memergoki ibunya dan Karyono bercumbu di antara rimbun daun bibit sawat dalam tanggul. Hati Meliana makin hancur.

Hujan lebat bermalam-malam merubah semua rencana para pekerja dan jalan hidup Meliana. Banjir besar tak terbendung. Tanggul setinggi tiga meter itu pun bobol tak mampu menahan desakan air banjir. Pekerbunan itu menjadi danau. Meliana memutuskan ikut orang tua Pelianus kembali ke Gunung Sitoli walau ibunya tetap memilih bertahan di barak bersama Mas Karyono. Dia mengubur semuanya, kenangan terhadap sahabat baiknya Pelianus, rasa cintanya pada Karyono dan bencinya pada ibunya dalam pusaran air banjir yang kian meninggi.

Novel ini memiliki nilai lebih. Bercerita tentang kerasnya hidup para pendatang di perkebunan sawit dengan semua keterbatasan fasilitas. Dan, bercerita tentang hubungan yang tak begitu harmonis antara seorang anak dengan ibunya. Memang demikian adanya, selalu ada yang kurang ketika hanya berorangtua tunggal.

Namun ada beberapa catatan yang menurut saya yang perlu diluruskan. Pertama mengenai masa pubertas tokoh Meliana yang menurut penafsiran saya agak terlambat jika melihat semua perubahan fisik dan psikis si tokoh. Masa pubertas bagi remaja putri memang lebih cepat dibandingkan anak laki-laki, biasanya sudah mulai dari umur 9-12 tahun. Cepatnya masa pubertas ini sangat dipengaruhi oleh faktor makanan, rangsangan dari luar seperti tontonan, bacaan dan pergaulan dengan teman-teman. Untuk gadis yang hidup di pedalaman dengan segala keterbatasan, masa pubertas 12 tahun dapat diterima. Namun itu dari segi fisiknya, tapi dari segi psikis tentu akan sangat berbeda.

Tapi sosok Meliana dalam novel ini digambarkan sudah mulai tertarik dengan lawan jenis dan sudah bisa mendefenisikan kata “cinta”. Padahal kalau dipertimbangkan dari terbatasnya tontonan, bacaan dan pergaulan tentunya umur 12 tahun masih kuat sifat anak-anaknya. Dan, biasanya remaja putri begitu takut dengan pengalaman haid pertamanya.

Berbeda dengan remaja putri di perkotaan yang sangat terbiasa mendengarkan tentang pubertas, haid dan perubahan cira seks sekundernya. Biasanya mereka juga sudah mulai mengenal lawan jenis dan diam-diam sudah menyimpan nama seseorang yang spesial di hatinya, atau bahkan sudah ada yang pacaran. Bagi kasus Meliana tentu tidak bisa secepat itu, dengan semua keterbatasannya. Ditambah lagi, penulis kurang begitu menggambarkan bagaimana tanggapan si tokoh Meliana perubahan fisiknya.

Pada halaman 107, dituliskan bahwan 295 ribu bibit sawit tenggelam dalam tanggul yang jebol. Sangat sukar menghitung berapa jumlah pasti dari bibit sawit yang berhasil diselamatkan, mengingat waktu pemindahan dalam tanggul dilakukan saat hujan dan banjir mulai naik. Tentu ada bibit sawit yang tak terangkut, bercecaran dan belum tentu ada kesempatan mandornya menghitung berapa jumlah pasti bibit sawit yang sudah dipindahkan ke dalam tanggul.

Satu hal lagi yang masih mengganjal, bagaimana bisa Karyono dekat dan berpacaran dengan ibu Meliana, karena penulis novel ini lebih menonjolkan sosok tokoh Meliana. Kesukaran itu makin membingungkan pembaca karena penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama “aku” (Meliana). Tapi novel ini layak untuk dibaca.***



Joni Lis Efendi adalah pembaca sastra dan menulis buku tentang motivasi. Aktif di Forum Lingkar Pena (FLP). Tinggal di Pekanbaru.
(Dimuat di Riau Pos pada tanggal 3 Januari 2010)

One Response to "Langit Kelabu: Sawit, Banjir dan Cinta Segi Tiga"