Latest News
Muda | Islami | Inspiratif | Ideal | Aktif
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label tokoh dan sastrawan riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh dan sastrawan riau. Tampilkan semua postingan

Hang Kafrawi (Sastrawan dan Teaterawan)

Posted by MiNDa magazine online Sabtu, 02 Juli 2011, under | 0 komentar
Sastrawan dan Teaterawan
Hang Kafrawi
5517


Hang Kafrawi lahir di Teluk Belitung, Bengkalis, 22 Maret 1974, dari orang tua Jamil Nur dan Azizah. Menamatkan S1 di Fakultas Sastra Unilak Jurusan Sastra Indonesia. S2 di selesaikannya di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Penciptaan Teater tahun 2005.

Karya Hang Kafrawi yang telah dibukukan antara lain, Membaca Riau (kumpulan puisi), Orang-orang Kalah (Naskah Drama dan kumpulan Cerpen), Wawancara Khayal Dengan Yung Dollah (kumpulan cerita humor), Merbau Bersiram Darah (roman cerita rakyat), Dedap Durhaka (kumpulan naskah drama anak-anak), Pertemuan DalamPipa (kumpulan cerpen bersama diterbitkan Dewan Kesenian Jakarta), Air Mata 1824 (kumpulan puisi bersama penulis Malaysia).

Selain menulis karya sastra Hang Kafrawi juga aktif menyutradarai teater semenjak tahun 1997. Pementasan teater yang pernah dipentaskan antara lain; Roh, Manusia-manusia (dipentaskan di Bandung), Taman Hati, Orang-orang Kalah (dipentaskan di Medan dan Padang), Baginda Sultan, (dipentaskan di Malaysia) Mengadili Sang Sapurba (dipentaskan di Malaysia dan Yogyakarta).

Hang Kafrawi juga membacakan puisi-puisinya di Batam, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Malaka dan di University Kebangsaan Malaya Selangor. Beberapa drama komedi televisi juga pernah di sutradarainya, sebut saja; Bulan Terhempas (diikutsertakan dalam lomba film pendek yang ditaja SCTV), Eks Kapten (Film Pendek Terbaik I Dewan Kesenian Riau 2002), Drama Komedi Situasi Televisi Baginda Sultan (ditayangkan di Riau Televisi sebanyak 14 episode), Ngah Husin (drama komedi televisi sebanyak 4 episode). Sekarang Hang Kafrawi berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau, sebagai direktur dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning.

MARHALIM ZAINI

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
MARHALIM ZAINI lahir di Telukpambang, Bengkalis, Riau, pada 15 Januari 1976. Anak kedua dari empat bersaudara pasangan Zaini Safar dan Sarimah Nasroen ini menamatkan SD di kampungnya dan SLTP dan SLTA (MAN 1 Pekanbaru) di Pekanbaru. Sempat kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, namun tidak selesai. Di institut ini ia mengasuh Tabloid Shoutul Jami?ah.

Gagal di Padang, tahun 1998 Marhalim Zaini hijrah ke Jogyakarta, dan merampungkan studi S1-nya di Jurusan Teater, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogyakarta. Di institut ini ia kembali mengasuh tabloid, Taferil, selama dua tahun (2000?2002), dan Jurnal Teater Stambul (2003?2004).

Rajin mempublikasikan karya-karyanya ke berbagai media, lokal dan nasional, di antaranya Kompas, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, Koran Tempo, Republika, Jurnal Puisi, Pikiran Rakyat, Batam Pos, Riau Pos, Majalah Berdaulat, Majalah Sagang, Majalah Tepak, Singgalang, Haluan, Mimbar Minang, Yogya Pos, Bernas, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Solo Pos, Suara Merdeka, Jawa Pos, Surabaya Post, Radar Cirebon, Lampung Post, Bali Post, Cybersastra, On/Of dan Prince Claus Fund Journal 2006.

Buku tunggal puisinya yang sudah terbit adalah Segantang Bintang, Sepasang Bulan (Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru, 2003) dan Langgam Negeri Puisi (Dewan Kesenian Bengkalis, Bengkalis, 2004). Untuk drama, Marhalim Zaini telah membukukan Di Bawah Payung Tragedi (2003), sedangkan novel telah terbit Getah Bunga Rimba (Gurindam Press Pekanbaru, 2006) dan Hikayat Kampung Mati (AdiCita, Jogyakarta, 2007), Megalomania (Gurindam Press, Pekanbaru, 2008). Dia Kumpulan cerpen sulungnya adalah Amuk Tun Teja (Pustaka Pujangga, Pekanbaru, 2007).

Karya-karyanya juga dapat ditemukan dalam sejumlah antologi puisi dan cerpen, seperti Batarak (UKM Teater IB Padang, 2000), Embun Tajali (FKY XII, Yayasan Aksara, 2000), Anugerah Sagang 2000 (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2000), Filantropi (FKY XIII, Yayasan Aksara 2001), Hijau Kelon & Puisi 2002 (Kompas, Jakarta, 2002), Dian Sastro for President (AKY, Bentang, Jogyakarta, 2002), Magi dari Timur (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2003), Pertemuan dalam Pipa (Dewan Kesenian Jakarta & Logong Pustaka, Jakarta, 2004), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004), Seikat Dongeng Tentang Wanita (Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004), Rembulan Tengah Hari (Dewan Kesenian Riau & Yayasan Sagang, Pekanbaru, 2004), Mahaduka Aceh (PDS HB Jassin, Jakarta, 2005), Lok Tong (CWI, Jakarta, 2007).

Sejumlah penghargaan yang pernah diterima di antaranya dari DPD BSMI Daerah Istimewa Jogyakarta, Dewan Kesenian Riau, Majalah Sagang, Hadiah Tepak, Nomine KSI Award, Nomine Anugerah Sagang, dan Dar! Mizan 2005, Ganti Award 2005, dan Anugerah Seni 2005 dari Dewan Kesenian Riau sebagai Seniman Pemangku Negeri (SPN) bidang sastra.

Event kebudayaan yang pernah dihadirinya antara lain Festival Kesenian Jogyakarta (FKY XIV, 2002), Pasar Seni Dewan Kesenian Riau 2003, Cakrawala Sastra Indonesia Dewan Kesenian Jakarta 2004 di TIM, Jakarta, Seminar Warisan Puisi Melayu Serantau di Malaka (Oktober 2004) yang diselenggarakan oleh Institut Seni Malaysia Malaka, Kerajaan Negeri Malaka dan Dewan Bahasa dan Pustaka, Kenduri Seni Melayu 2005 di Batam, Bintan Art Festival 2005 di Tanjungpinang, Utan Kayu International Literary 2005 di Lampung.

Selain bersastra, dia juga aktif di teater. Marhalim Zaini menetap di Pekanbaru dan berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) Pekanbaru sebagai ketua Jurusan Teater, dan staf pengajar sambil menggerakkan Komunitas Paragraf. @

ARMAN RAMBAH (Seniman Pemangku Negeri)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Seniman Pemangku Negeri : ARMAN RAMBAH
Arman Rambah
6380

Arman Rambah
Nama : ARMAN RAMBAH
Tempat/tgl. Lahir : Pasir Penggarayan 5 April 1971
Alamat : Jl. Safari III No. 4 Sigunggung Labuh Baru Barat
Telp./Hp : (0761) 7048277/0811764770

Riwayat Pendidikan

Sekolah Dasar : SDN 004 Pasir Penggarayan

SLTP : SMPN 1 Pasir Penggarayan

SLTA : SMAN 1 Pasir Penggarayan

Perguruan Tinggi

Strata 1 (S-1) : Sendratasik FKIP UIR

Strata 2 (S-2) : Pascasarjana Pencipta Seni Musik Institut Seni Indonesia Yogyakarta (semester II)

Kegiatan

Mengajar pada jurusan musik Akademi Kesenian Melayu Riau

Mengajar pada jurusan program studi sendratasik FKIP UIR

Sebagai pemain akordion pada grup music geliga

Sebagai pengurus pada Bandar Serai Orkestra

Menulis esai tentang musik pada Koran Riau Pos dan Majalah Sagang

Prestasi yang pernah diraih

Lima penata musik unggulan PARADE LAGU DAERAH di TMII Jakarta tahun 2004

Lima penata musik unggulan PARADE LAGU DAERAH di TMII Jakarta tahun 2005

Lima penata musik unggulan PARADE LAGU DAERAH di TMII Jakarta tahun 2006

Lima kjarya musik terbaik pada RARAK CIPTA MUSIK Dewan Kesenian Riau di Kabupaten Pelalawan tahun 2003

Kegiatan music yang penah diikuti :

Satu Bumi Beribu Bunyi di TMI Jakarta tahun 2007

Java Jazz di Jakarta tahun 2007

Mallaca Strait Jazz Festival di Malaka tahun 2006 dan Pekanbaru tahun 2007

Konser Kolaborasi Musik Gondang Burogong di Rokan Hulu tahun 2007

Menjadi pemakalah pada Seminar Koba di Pekanbaru 2007

Menjadi pemakalah pada Ketobung di Pekanbaru 2007

Menjadi pembicara pada Diskusi Musik Musik di STSI Padang Panjang tahun 2004

Pemateri Workshop musik AKMR bekerja sama dengan Budsenipar Provinsi Riau tahun 2005, 2007

Pemateri Workshop musik Dewan Kesenian Riau tahun 2007

Mengikuti Seminar Word Music di TIM Jakarta

Mengikuti acara Gendang di Malaka tahun 2004

Mengikuti kunjungan kesenian di Singapura dan Brunai Darussalam tahun 2002

Mengikuti kunjungan kesenian di Pahang Malaysia tahun 2004

Diundang sebagai Additional Palyer di Pahang Malaysia tahun 2005

Menjadi Dewan Juri pada Rarak Cipta Musik Dewan Kesenian Riau tahun 2005

Sebagai Panitia Atraksi Budaya pada acara Pertemuan Memartabatkan Tamadun Melayu Serumpun tahun 2007

Sebagai ketua panitia seminar harapan dan tantangan musik Melayu Riau dalam kajian ilmiah tahun 2007

Sebagai ketua panitia Festival Seni Tradisi dan Kreasi Sendratasik FKIP UIR tahun 2000

Mengikuti acara Kenduri Seni di Batam tahun 2002, 2003.

Mengikuti Sayang-sayang Selatb di Bengkalis tahun 2001 dan Selat Panjang tahun 2002

Mengikuti acara Semarak Zapin Serantau di Bengkalis tahun 2003

Mengikuti Acara Hitam Putih Word Music di Pekanbaru tahun 2003, 2004, 2005

Karya Musik :

Komposisi Musik Bukayuh (kwintet gesek dokumentasi berbentuk notasi) tahun 2007

Komposisi Musik Topogeh (piano + kwintet gesek dokumentasi berbentuk notasi) tahun 2007

Komposisi Musik Puan untuk prosesi launching Yayasan Tenas Effendy ( dokumenta-si berbentuk rekaman) tahun 2007

Aransemen musik album lagu Melayu (Idawati): Harapan Kasih Tahun 2001

Aransemen musik album lagu Melayu (Idawati): Semalam di Bandar Serai tahun 2003

Aransemen musik album lagu Melayu (Amilah Amir, Malaka): Antara Cinta dan Ketaatan tahun 2001

Aransemen musik album : Lagu Melayu Anaka-anak tahun 2005

Aransemen musik album lagu Melayu (Yuherman): Zapin Pasang Suluh tahun 2006

Aransemen musik album lagu Melayu (Hasan): Zapin Pemuncak Payung tahun 2004

Aransemen musik album lagu Melayu (Abunawas): Senja di Rokan Hulu tahun 2007

Aransemen musik album lagu Melayu Kabupaten Bengkalis : Negeri Junjungan tahun 2002

Aransemen musik album lagu Melayu Kabupaten Natuna : Dendang Melayu Natuna tahun 2004

Aransemen musik album lagu Melayu Kabupaten Natuna : Natuna Gerbang Uarat Ku tahun2007

Aransemen musik album lagu Melayu Kabupaten Natuna : Album Melayu Batam tahun 2006

Aransemen musik album lagu Melayu Kabupaten Indragiri Hulu : Sultan Ibrahim Tahun 2007

Aransemen lagu Hymne dan Mars Kabuoaten Rokan Hulu tahun 2007

Aransemen musik untuk Festival lagu Melayu Dikpora Pekanbaru tahun 2005, 2006, 2007

Aransemen musik untuk Festival Seni Pelajar se-Provinsi Riau tahun 2006, 2007

Aransemen musik untuk Bandar Serai Orkestra yang dinyanyikan oleh Ahmad Jais, Malaysia tahun 2005

Aransemen musik untuk lagu Ulang Tahun Emas Provinsi Riau tahun 2007

Aransemen musik lagu Lancang Kuning, Pantai Solop dan Ayam Putih Pungguk Produksi Dinas Pariwisata Provinsi Riau tahun 2004

Aransemen musik lagu-lagu perjuangan untuk Obade pada HUT RI ke-62 di Pekanbaru

Aransemen musik untuk lagu Anugerah Tradisi Dinas Pariwisata Provinsi Riau tahun 2005, 2006, 2007.

Idrus Tintin Seniman (Pemangku Negeri)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Seniman Pemangku Negeri Idrus Tintin
Idrus Tintin
5595
Kronologis Hidup dan Kesenimanan
Idrus Tintin

1932
10 November, lahir di Rengat, Riau, kemudian Idrus di bawa orang tuanya pindah ke Tarempa, Kepulauan Riau dan kemudian masuk Sekolah Rakyat di Tarempa.
1941
Pindah ke Tanjung Pinang, Idrus Tintin melanjutkan Sekolah Rakyat tidak selesai. Tinggal di asrama Dai Toa (asrama penampungan anak-anak yatim paitu). Semenjak tinggal di asrama inilah Idrus Tintin mulai mengenal dunia drama. Salah satu grup drama pimpinan Raja Khatijah terpilihlah Idrus Tintin
Bersama Hasan Basri, untuk berperan: dalam satu pertunjukan drama bahasa Jepang di Gedung Daerah Tanjung Pinang (sekarang).

1943
Bekerja di sentral telepon perusahaan Okabutai milik pemerintahan pendudukan Jepang di Tanjung Pinang.
Jadi pemeranan dalam pertunjukan drama pendek ide cerita Noserang mengenai kehidupan petani yang hidup melarat.

1945
Pindah ke Tembilahan dan masuk Sekolah SMP Muhammadiyah, tidak selesai.. Beramain teater sebagai Piguran bersama grup drama Agus Moeis dan Hasbullah.

1947
Pindah ke Rengat dan melanjutkan Sekolah SMP. Masa-masa sekolah di Rengat setiap ada kesempatan, Idrus selalu saja bermain teater.
1948 Idrus masuk tentara pangkat prajurit.
1950 Pindah ke Tanjung Pinang dan bekerja sebagai Staf Angkatan Darat.
1952 Pindah ke Tarempa Idrus Tintin mendirikan grup sandiwara ?Gurinda?.
1954 Masuk Pegawai Negeri sampai menjadi Kepala Kantor Sosial Kewedanan Pulau Tujuh.
1957 Idrus Tintin yang bergemilang dengan kesenian dan masih mencari identitas diri maka dipindahkan ke Tanjung Pinang dan kemudian meninggalkan tugas pegawai negeri.
1958 Bersama Hanafi Harun membentuk kelompok teater non formal di Tanjung Pinang dan tampil berpuluh kali. Beberapa cerita yang dimainkan yaitu Buih dan Kasih Sayang Orang Lain, Bunga Rumah Makan, dan awal dan Mira.
1959

Bergabung Galeb Husien. Mengadakan pertunjukan drama spektakuler di depan Kantor RRI Tanjung Pinang, yaitu drama pasien. Idrus Tintin sebagai peran utama, bermain bersama beberapa orang seperti Edi Nur, Ita Harahap. Pertunjukan di sutradarai Galeb Husien, dan Asisten Sutradara Idrus Tintin. Semenjak itu setiap ada kegiatan perayaan pemerintah daerah kelompok Idrus Tintin selalu diajak untuk bermain drama.

Mengkoordinir drama dan pertunjukan drama CIS, dan Pasien di Gedung Setia Dharma Pekanbaru selama dua malam dibantu Thamrin Riau. Kesempatan dialog dengan penonton, drama yang ditampilkan Idrus tintin di samping mendapat pujian, juga mendapat protes sebab drama yang dibawakan merupakan drama yang tidak biasa bagi mereka.

Belajar teater non formal di Jakarta dengan harapan dapat masuk ASDRAFI. Bertemu dengan Galeb Husien belajar teater seperti di ATNI.

Bertemu dan latihan bermain teater cerita? Kereta Kencana? di temapat Motinggo Busye.

Melanjutkan perjalanan ke Solo dan belajar teater pada S. Tossani. Bermain tearer di Surabaya bertepatan dengan hari kelahiran Idrus Tintin.


1960

Kembali ke Rengat dan menikah dengan Masni seorang perempuan Rengat Indragiri, Riau. Bekerja di Kantor Penerangan Rengat, Indragiri, Riau.

Membentuk kelompok teater dan berkali-kali memimpin pertunjukan bersama Taufik Effendi Aria, Bakri, Rusdi Abduh di Rengat, Tanjung Pinang, Tembilahan. Naskah cerita yang dimainkan merupakan naskah yang dibuat sendiri namun tidak terarsip baik Idrus Tintin maupun kawan-kawan grupnya. Kegiatan berteater di Rengat dilakukan sampai tahun 1965.

1964

Mengikuti festival Drama di Pekanbaru yang ditaja oleh Pemerintah Daerah Riau Idrus Tintin mendapat penghargaan sebagai actor terbaik.
1966
Memimpin dan menyutradarai sebuah pertunjukan drama di Gedung Trikora, yang didukung anatara lain oleh M. Rasul, Taufik Effendi Aria, Mami Soebrantas, dan RP Marpaung.
1970

Pindah ke Jakarta, bekerja di sebuah Travel Nusantara Air Center dan Majalah Indonesia Movie rubric budaya.

Membentuk Grup Movies Teater di Gedung Kesenian Jakarta bersama dengan Alex Zulkarnain.

1973

Meninggalkan semua pekerjaan di Jakarta, kembali ke Rengat kemudian tahun yang sama pindah ke Pekanbaru dan bekerja di Perusahaan Penimbunan Pasir.

Menyutradarai pertunjukan ?Hariamau Tingkis? di Balia Dang Merdu di bawah koordinator BM Syam dengan para pemain antara lain Faruq AIwi, Patopoi Menteng, Akhyar dan Yusuf Dang.

Berhenti bekerja di perusahaan, kemudian bekerja sebagai pegawai honor Bagian Humas Kantor Gubernur Riau dan salah seorang pengasuh majalah Gema Riau. 1974 Mendirikan Teater Bahana dibantu oleb Armawi KH.

1975

Mengajar di SMAN 2 Pekanbaru selama 17 tahun. Idrus Tintin membina siswanya berkesenian di Teater Bahana. Minimal satu kali sebulan Teater Bahana melakukan pementasan di Pekanbaru.

1996

MenerimaAnugrah Sagang untuk seniman/budayawan terpilih dari Yayasan Sagang Riau Pos Media Grup.

Idrus Tintin selalu mengikuti pertemuan ilmiah baik sebagai pembicara, peserta maupun mengadakan pertunjukan teater monolog. Kawan-kawan Idrus mengatakan bahwa kehidupan Idrus adalah teater.


2003 14 Juli, Idnus Tinti tutup usia.

EDIRUSLAN PE AMANRIZA

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
EDIRUSLAN PE AMANRIZA lahir di Bagansiapi-api, Rokanhilir, Riau, pada 17 Agustus 1947. Ediruslan Pe Amanriza memulai pendidikannya di Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Bagansiapi-api. Tahun 1961, ia masuk SHD di Medan, meskipun tidak selesai. Tahun 1962, ia pindah sekolah ke SKMA Bogor, juga tidak selesai. Pada tahun yang sama, ia meneruskan sekolahnya di salah satu SMA di Bandung sampai tamat. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di FHPM Universitas Padjadjaran, Bandung, hingga 1969, namun juga tidak sampai selesai.

Semasa hidupnya, Ediruslan Pe Amanriza banyak terlibat dalam berbagai aktivitas sosial-politik dan kesenian. Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau dari Partai Golkar, menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Lancang Kuning, Pekanbaru, sekjen dan kemudian ketua umum Dewan Kesenian Riau (DKR), ketua harian Yayasan Lembaga Adat Seni Raja Ali Haji (Bandar Serai), Pekanbarau, dan sebagainya. Sebagai seorang jurnalis, Ediruslan pernah menjadi koresponden Majalah Topik dan Tempo (Jakarta), kemudian aktif di Surat Kabar Mingguan Genta (Pekanbaru) sebelum akhirnya mendirikan koran sendiri, Tabloid Azam (Pekanbaru).

Di sela-sela kesibukannya di organisasi dan politik, Ediruslan tak pernah berhenti dari kegiatan menulis atau kesusastraan. Karier kepengarangannya sendiri sudah mulai ia rintis sejak duduk di bangku SMP, tetapi secara sungguh-sungguh baru ia lakukan sekitar tahun 1967. Sejumlah puisi, cerpen, esei, dan novel telah ia hasilkan dan dimuat di berbagai media massa. Puisi-puisinya, antara lain, dimuat di Mingguan Mimbar Demokrasi dan Majalah Mimbar Bandung. Karya-karyanya yang lain juga dimuat di Harian Sinar Harapan, Haluan, Kompas, Majalah Sastra Horison, Zaman, Menyimak, dan lain sebagainya.

Ediruslan Pe Amanriza wafat pada hari Rabu, 3 Oktober 2001, sekitar pukul 12.35 WIB, di Rumah Sakit Islam Asifah Sukabumi, Jawa Barat. Ia wafat setelah tidak kuat melawan kanker paru-paru yang dideritanya selama empat bulan. Ia meninggalkan empat orang anak dan seorang istri.

Salah satu romannya, Panggil Aku Sakai (Balai Pustaka, Jakarta, 1987) yang memenangi sayembara mengarang roman Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1986, sangat dikenal oleh publik sastra di Riau. Roman ini menjadi salah satu simbol perlawanan masyarakat suku terasing Sakai terhadap dominasi pembangunan yang cenderung menindas.

Karya-karyanya dalam bentuk kumpulan puisi, antara lain, Vogabon (1975), Surat-suratku kepada GN (1981), Nyanyian Wangkang (1999), sebuah antologi bersama penyair Taufik Ikram Jamil, Antara Mihrab dan Bukit Kawin (1992). Sedangkan karya-karya dalam bentuk roman atau novel antara lain Di Bawah Matahari, Taman, Jakarta di Manakah Sri, Ke Langit (1993), Jembatan (Kekasih Sampai Jauh), Perang Bagan, dan Stasiun di Kaki Bukit. Tiga romannya, Nakhoda Koyan (1977), Panggil Aku Sakai (1987), dan Dikalahkan Sang Sapurba (2000), memenangi Sayembara Mengarang Roman DKJ, masing-masing untuk juara I, I, dan II. Satu-satunya kumpulan cerpennya yaitu Renungkanlah Markasan (DKR, 1997). Dua novelnya, Jakarta di Manakah Sri dan Di Bawah Matahari, diterbitkan di Kualalumpur, Malaysia, sementara roman-romannya yang lainnya diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta. Esei-eseinya yang sudah dibukukan adalah Kita dari Pedih Yang Sama (1999) dan Aduh, Riau Dilanggar Todak.

Atas karya dan jasa-jasanya bagi seni dan budaya, Ediruslan Pe Amanriza telah mendapatkan penghargaan Anugerah Sagang kategori Seniman Terbaik Pilihan Sagang dari Yayasan Sagang (1998) dan Seniman Pemangku Negeri (SPN) dari DKR.

Rida K Liamsi (Seniman, Penulis)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Seniman Perdana : RIDA K LIAMSI
Rida K Liamsi
4792

Rida K Liamsi
RIDA K LIAMSI, dilahirkan di Dabosingkep, Provinsi Kepulauan Riau, 17 Juli 1943. Rida K Liamsi yang bernama asli Ismail Kadir ini pernah menjadi Guru Sekolah Dasar pada rentang tahun 1967-1975 sebelum akhirnya terjun di dunia jurnalistik. Karir wartawannya dimulai ketika tahun 1972 ? 1973 sebagai wartawan Mingguan Pelita Buana. Pernah menjadi wartawan Majalah Tempo selama delapan tahun, di Harian Suara Karya lima tahun, sebelum pindah ke Harian Riau Pos yang terbit di Pekanbaru. Kini selain menjadi CEO Riau Pos Group yang mengelola kelompok bisnis media di bawah bendera Jawa Pos Group, juga menjabat Direktur PT JPNN di Jakarta. Group Riau Pos sendiri mempunyai bisnis media di Riau, Kepulauan

Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan di Nanggroe Aceh Darussalam. Juga mempunyai beberapa TV local seperti Riau Televisi, Batam Televisi, serta Padang Televisi.

Rida K Liamsi
Sejak duduk di sekolah menengah pertama suami dari Hj Asmini Syukur ini suda menulis sajak-sajak. Tahun 1981 kumpulan sajaknya yang pertama ODE X terbit dalam bentuk stensilan. Bersama Hasan Junus dan Eddy Mawuntu menerbitkan kumpulan essei dan puisi yang diberi nama JELAGA, di Tanjungpinang. Beberapa sajaknya juga pernah dimuat dalam beberapa antalogi puisi yang terbit di Pekanbaru. Di tahun 2003, menerbitkan kumpulan sajaknya yang ke dua Tempuling.

Rida K Liamsi juga banyak menulis artikel-artikel budaya dan menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan budaya, terutama tentang kebudayaan Melayu. Akhir tahun 2007 lalu, novel pertamannya BULANG CAHAYA diterbitkan.

Tanda komitmennya terhadap perkembangan satra dan budaya, Rida juga mendirikan sebuah yayasan budaya yang diberina nama Yayasan SAGANG. Melalui yayasan ini, sejak tahun 1997 telah menerbitkan majalah budaya yang diberi nama SAGANG. Yayasan ini juga setiap tahunnya, sejak tahun 1996, telah memberikan penghargaan kepada para seniman/budayawan, karya-karya budaya, serta institusi budaya yang bernapaskan budaya Melayu, dengan anugerah yang diberinama ANUGERAH SAGANG.

Taufik Ikram Jamil (Budayawan, Penulis)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Seniman Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2003
Taufik Ikram Jamil
5365

Taufik Ikram Jamil
TAUFIK IKRAM JAMIL lahir di Telukbelitung, Kabupaten Bengkalis, Riau, pada 19 September 1963. Ia mengenyam pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Bengkalis. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Riau (PSBSI FKIP Unri), dan selesai tahun 1987.

Selain dikenal sebagai seorang cerpenis dan penyair, Taufik Ikram Jamil juga dikenal sebagai jurnalis. Ia bahkan lebih dulu dikenal sebagai sastrawan berkat cerpen-cerpennya yang dipublikasikan di media-media nasional, seperti Kompas, Berita Buana, majalah Amanah dan sebagainya. Ia memulai karier kewartawanannya pada tahun 1983 sebagai wartawan di mingguan Genta, Pekanbaru. Tahun 1988, ia pindah ke Kompas dan sempat ditugaskan selama beberapa tahun di Jakarta.

Pada tahun 1991, ia mendirikan Yayasan Membaca yang bergerak di bidang kebudayaan. Yayasan ini kemudian menerbitkan jurnal Menyimak yang memuat karya-karya sastrawan setempat. Kemudian, tahun 1999, yayasan ini bermetamorfosis menjadi Yayasan Pusaka Riau yang bergerak dalam berbagai bidang, di antaranya kebudayaan, penerbitan, dan kesenian. Pada tahun 2002, ia berhenti menjadi wartawan di harian Kompas untuk mencurahkan pikiran dan ide-ide kreatif demi kemajuan seni. Pada tahun itu juga ia mendirikan dan mengetuai Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) di Pekanbaru, satu-satunya akademi kesenian di Sumatera. Tahun 2002–2007 ia terpilih sebagai ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR).

Dalam dunia kesusasteraan, Taufik Ikram Jamil banyak menghasilkan karya yang telah dimuat dalam berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Pembaruan, Kartini, Horison, Kalam, Jawa Pos dan Ulumul Qur‘an. Kumpulan puisi sulungnya adalah Tersebab Haku Melayu, kemudian menyusul kumpulan cerita pendek Sandiwara Hang Tuah, Membaca Hang Jebat, dan roman Gelombang Sunyi. Adapun karya sastranya yang berisi tentang sejarah terhimpun dalam berbagai antologi di Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta, Lampung, Makassar, Surabaya dan Kualalumpur, misalnya Negeri Bayang-bayang dan Soeharto dalam Cerpen Indonesia, serta antologi cerpen dalam bahasa Inggris Menagerie 4. Seorang pakar sastra Belanda, Dr Will Derks telah membahas karya-karyanya dalam sebuah bunga rampai tentang pembangunan Asia yang diterbitkan di London tahun 1998.

Melalui karya-karyanya, Taufik Ikram Jamil semakin terkenal, sehingga ia sering mendapat undangan untuk menghadiri berbagai event sastra di dalam dan luar negeri. Tahun 2001, ia mewakili Indonesia untuk membaca sajak bersama penyair dari sepuluh negara dalam International Poetry Festival yang diselenggarakan Majelis Sastra Asia Tenggara. Ia juga pernah menjadi pembicara dalam berbagai seminar di beberapa kota besar, di antaranya Jakarta, Bogor, Johor Baru, Kualalumpur dan Leiden.

Karya-karyanya, untuk buku puisi, adalah Tersebab Haku Melayu (Yayasan Membaca, Pekanbaru, 1994), Negeri Bayang-bayang (antologi puisi, Pekanbaru, 1996). Sementara untuk cerpen-cerpennya, ia mengumpulkannya dalam Sandiwara Hang Tuah (Grasindo, Jakarta, 1996), Hikayat Batu-Batu (Kompas, Jakarta, 2005), Jumat Pagi Bersama “Amuk” dan Membaca Hang Jebat (Grasindo, Jakarta, 1995), antologi cerpen Soeharto dalam Cerpen Indonesia (Penerbit Bentang, Jogyakarta, 2001), antologi cerpen dalam bahasa Inggris Menagerie 4. Untuk roman, Taufik Ikram Jamil telah melahirkan Gelombang Sunyi (Kompas, Jakarta, 2001), Hempasan Gelombang (Kompas. 1999). Satu bukunya yang lain, Dari Percikan Kisah, Membentuk Propinsi Riau, merupakan buku sejarah (Yayasan Pusaka Riau, Pekanbaru, 2001).

Atas karya dan jasa-jasanya pada sastra dan budaya, Taufik Ikram Jamil telah dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya dari majalah Horison untuk kategori cerpen terbaik berjudul Menjadi Ratu (1997), dari Yayasan Sagang untuk kategori karya budaya terbaik berjudul Sandiwara Hang Tuah (1997), dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk kategori cerpen utama Indonesia berjudul Jumat Pagi Bersama ”Amuk” (1998). Dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai juara harapan II dalam sayembara penulisan roman berjudul Hempasan Gelombang (1998), dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk kategori sastra terbaik berjudul Membaca Hang Jebat (1999), dari Yayasan Sagang untuk kategori seniman terbaik (2003).

Ia menikah dengan Umi Kalsum dan dikaruniai tiga orang anak, Tuah Kalti Takwa (sulung), Megat Kalti Takwa dan Nadim Kalti Takwa. @


Sagang Online 2009 2 Users Online Redaksi Gedung Riau Pos Jl. HR Soebrantas Km 10,5 Panam Pekanbaru-Riau

Fakhrunnas Ma Jabbar

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Seniman dan Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 2008
Fakhrunnas Ma Jabbar
5435

Fakhrunnas Ma Jabbar
Dilahirkan di Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Mulai menulis sejak di bangku SMP di Bengkalis. Menamatkan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan, Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru tahun 1985. Menjadi dosen di Universitas Islam Riau (UIR) sejak 1986. Tulisannya berupa artikel, esai, cerpen dan puisi telah dimuat di sejumlah media nasional dan local seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suara Pembaruan, Bisnis Indonesia, Seputar Indonesia, Gatra dan sebagainya.

Aktif dalam berbagai organisasi kesenian dan kebudayaan a.l. Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994-96), Sekretaris Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI- 1983-95), Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pemuda KNPI Riau (1981-85), Sekretaris Komite Program Yayasan Puisi Nusantara (1980-84). Sejumlah buku telah diterbitkan antara lain, Di Bawah Matahari (1981) dan Matahari Malam, atahari Siang (1982) - keduanya kumpulan puisi bersama penyair Husnu Abadi , Meditasi Sepasang Pipa (1987) ?kumpulan puisi bersama penyair Wahyu Prasetya, Biografi Buya Zaini Kuni : Sebutir Mutiara di Lubuk Bendahara (1993), Autobiografi H. Soeman Hs: Bukan Pencuri Anak Perawan (1998) yang terpilih sebagai Buku Terbaik Anugerah Sagang tahun 1999. Kumpulan Puisi Airmata Barzanji (Adi Cita, Yogyakarta, 2005, Pengantar oleh D. Zawawi Imron), Kumpulan Cerpen Sebatang Ceri di Serambi (Akar Indonesia, Yogyakarta, 2005, Kata Pengantar oleh Dr. Maman S. Mahayana) ? pernah dibahas oleh Pengamat Sastra Prof. Harry Aveling di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, 2006 serta terpilih sebagai 10 Nominator Khatulistiwa Literary Award 2006 dan terpilih sebagai Buku Pilihan Anugerah Sagang 2006 Katagori Buku Pilihan.

Sejumlah puisinya diterjemahkan dan ikut dalam Antologi Puisi Indonesia-Portugal bersama 50 Penyair Indonesia lainnya. Kumpulan Puisi terbarunya, Tanah Airku Melayu sedang dalam proses penerbitan oleh penerbit Adi Cita, Yogyakarta. Selain itu, 6 buku cerita anak di mana tiga judul di antaranya termasuk buku Inpres yakni Anak-anak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Menembus Kabut (Depag RI, 1985), Menyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997). Sebuah cerpennya, Rumah Besar Tanpa Jendela dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat ke sinetron oleh Chaerul Umam ditayangkan di LaTivi (2002). Sering memenangkan Sayembara Penulisan Sastra di antaranya Juara Pertama Penulisan Cerpen se-Indonesia (Bali Post, 1992), Juara Pertama Penulisan Cerpen se-Indonesia (UNS Surakarta, 1993), Juara Pertama Penulisan Puisi Lingkungan se-Indonesia (Sanggar Sastra Banjarmasin, 1987) dan Juara Pertama Penulisan Puisi tingkat Mahasiswa se-Indonesia pada Porseni tahun 1982) dan lain-lain. Sering pula memberikan ceramah sastra dan budaya dan membaca puisi di sejumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta dan Bandung.

Pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan tahun 1999 bersama dua budayawan Indonesia dan Negara-negara ASEAN lainnya pada ?99 Cultural Exchange Programme ASEAN-Republic of Korea di Seoul dan Kyong Ju. Menghadiri dan membacakan puisi pada event sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia 1987, Malam Bosnia (1995), Malam Solidaritas Islam (1996), Gong Melayu 2001 (2001) dan Baca Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003), Cakrawala Sastra Indonesia (2004) ? semuanya di TIM Jakarta dan Kongres Cerpen Indonesia di Pekanbaru (2006). Terakhir, membacakan sajak-sajaknya di Laman Bujang Mat Syamsuddin, Bandar Serai, Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru, Maret 2004.

Selain aktif berkesenian, dia juga menjalani profesi sebagai wartawan selama 20 tahun sejak 1979 dimulai dari LKBN Antara, Panji Masyarakat, Prioritas, Media Indonesia dan Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Sering memenangkan Lomba Karya Jurnalistik di Riau. Saat ini bekerja pada sebuah perusahaan pulp dan kertas di Pangkalan Kerinci, Pelalawan Riau dan hidup bersama istri yang dianugerahi tiga anak. ***

Sutardji Calzoum Bachri (tokoh Riau)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Sutardji Calzoum Bachri lahir di Rengat, Indragiri Hulu pada tanggal 24 Juni 1941 adalah pujangga Indonesia terkemuka. Setelah lulus SMA Sutardji Calzoum Bachri melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada mulanya Sutardji Calzoum Bachri mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan di Bandung, kemudian sajak-sajaknyai dimuat dalam majalah Horison dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana.
Dari sajak-sajaknya itu Sutardji memperlihatkan dirinya sebagai pembaharu perpuisian Indonesia. Terutama karena konsepsinya tentang kata yang hendak dibebaskan dari kungkungan pengertian dan dikembalikannya pada fungsi kata seperti dalam mantra.

Pada musim panas 1974, Sutardji Calzoum Bachri mengikuti Poetry Reading International di Rotterdam. Kemudian ia mengikuti seminar International Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat dari Oktober 1974 sampai April 1975. Sutardji juga memperkenalkan cara baru yang unik dan memikat dalam pembacaan puisi di Indonesia.

Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (1979). Pada tahun 1979, Sutardji dianugerah hadiah South East Asia Writer Awards atas prestasinya dalam sastra di Bangkok, Thailand.

O Amuk Kapak merupakan penerbitan yang lengkap sajak-sajak Calzoum Bachri dari periode penulisan 1966 sampai 1979. Tiga kumpulan sajak itu mencerminkan secara jelas pembaharuan yang dilakukannya terhadap puisi Indonesia modern.

Kronologis Hidup dan Kesenimanan
1941 Juni, Lahir di Rengat, Riau.
1947
Masuk sekolah rakyat dan selesai tahun 1953 di Bengkalis-Pekanbaru.
1956

Menyelesaikan Sekolah Menengah Pertama Negeri di Tanjungpinang, Riau.



Kuliah di Fakultas sastra Inggris Universitas Padjadjajaran Bandung selama satu tahun di Fakultas Sosial Poitik Jurusan Administrasi. Universitas Padjadjajaran Bandung sampai Doktoral II namun tidak menyelesaikan skripsi kesarjanaan karena sudah tertarik denganpenulisan kreatif.


1970an
Kumpulan puisi O di terbitkan oleh Yayasan Indonesia.


Kumpulan puisi amuk diterbitkan oleh Yayasan Karyawan Taman Ismail Marzuki



Hadiah buku terbaik Dewan Kesenian Jakarta namun Sutardji menolaknya karena penjuriannya dianggap tidak serius.

1973 Mengeluarkan kredo kepenyairan yang ingin melepaskan kata dan beban penyampaian makna.
1974 Mengikuti International Poetry Reading Rotterdam. Oktober sampai dengan April 1975 mengikuti International Creative Writing Program Lowa City,USA.
1979 Menerima Anugrah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Write Award) dan satu srikit Thailand. Menerima penghargaan Sastra Kabupaten Kepulauan Riau oleh Bupati Kepulauan Riau.
1980 Antologi 0, Amuk, Kapak buku dari tiga kumpulan puisi, penerbit Puasa Sinar Harapan Jakarta.
1982 November, menikah dengan Meriam Linda dan memperoleh seorang anak Mila Seraiwangi.
1990an Menerima Anugrah Seni Pemerintah Republik Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menerima Anugrah Sastra Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia Jakarta.
1998 Menenima Anugrah Sastra Dewan Kesenian Jakarta.
1999 Sampai sekarang mengasuh rubric budaya bulanan ?Bentara? di Harian Kompas dan redaktur senior Majalah Sastra Honison
2001 Buku kumpulan cenita Pendek ?Hujan Menulis Ayam? diterbitkan oleh Indonesiatera
Selain itu Sutadji Calzoum Bachri sering diundang membacakan sajak-sajaknya dibeberapa kota dunia dan membawa nama Riau dalam setiap pembacaan puisinya antara Lain di Rotterdam Belanda, Lowa City USA, Medeliin Colombia, Singapura dan Kuala Lumpur Malaysia. Sekarang Sutardji Calzoum Bachri menetap di Jakarta dan tunak mengabdikan diri pada dunia seni.

Tenas Effendy (sastrawan riau)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar
Tenas Effendy

Penguasaannya tentang makna filosofis yang terkandung dalam benda-benda budaya dipelajarinya secara otodidak sejak kecil. Ayahnya, Tengku Sayed Umar Muhammad adalah sekretaris Sultan Hasyim dari Kerajaan Pelalawan. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup dalam lingkungan budaya Melayu yang kental serta adat istiadat istana yang begitu kuat. Kondisi ini telah mendorongnya untuk belajar memahami dan kemudian menulis tentang kebudayaan Melayu. Ia memulai dari menulis kembali pantun-pantun, Petata-petitih, Ungkapan, Syair, Gurindam, dan segala macam yang berkenaan dengan kebudayaan Melayu.


Tenas Effendy pertama kali menulis tentang kebudayaan pada tahun 1952. Pada saat itu ia masih belajar di sebuah perguruan di Bengkalis. Ketertarikan dan minatnya terhadap kebudayaan Melayu tidak terlepas dari keluarganya yang mencintai adat istiadat Melayu, neneknya adalah seorang pembaca syair yang terkenal pada masanya. Selain pandai membaca syair, neneknya juga pandai dalam menenun, menekat pakaian-pakaian tradisional kerajaan Melayu di Pelalawan.

Sejak masa kanak-kanak Tenas Effendy sudah akrab dengan adat istiadat Melayu, sudah menjalani adab dan etika Melayu dalam kehidupan sehari-hari, maka ada semacam kekhawatiran ketika ia melihat, begitu banyak nilai luhur tata pergaulan Melayu sudah tidak lagi diperhatikan masyarakat. Menyadari hal tersebut, ia berusaha mencatat, mengumpulkan kembali, menghimpun melakukan kajian-kajian dan membuat penelitian tentang kebudayaan Melayu dalam bentuk apa saja.

Menyadari bahwa kekayaan khazanah kebudayaan Melayu begitu berlimpah dan masih terlalu banyak yang belum dapat dikumpulkannya, ia mendirikan Tenas Effendy Foundation, sebuah lembaga yang berusaha memberi bantuan pada para peneliti atau siapapun yang berminat melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kebudayaan Melayu. Hasil usahanya dalam rentang waktu tersebut, antara lain, setumpuk buku yang diterbitkan di dalam dan luar negeri. Sampai kini, Tenas sedikitnya telah menulis 70-an buku dan ratusan makalah yang dibawakan dalam berbagai pertemuan budaya di dalam dan di luar negeri, seperti Belanda, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand adalah beberapa negara yang kerap mengundangnya untuk berceramah disana. Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, mengundangnya sebagai penulis tamu.

Sejumlah bukunya, juga diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. Mengingat buku-buku yang ditulis Tenas Effendy menyentuh berbagai aspek kebudayaan Melayu, maka dari 70-an buku yang dihasilkannya itu, hampir separuhnya digunakan sebagai semacam buku pegangan, baik untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, maupun untuk masyarakat umum sebagai bahan pendidikan dan tata pergaulan dalam keluarga. Bahkan, sebagian besar Pemda Kabupaten di Propinsi Riau dan Kepulauan Riau, menempatkan buku-buku yang ditulis Tenas Effendy sebagai semacam buku wajib untuk para pegawai Pemda.

Ia tidak sekedar ditempatkan sebagai budayawan yang mumpuni, tokoh adat yang kharismatik, tetapi juga kerap mengundangnya dalam kaitannya dengan kebijakan yang akan disusun dan dijalankan pemda. Tidak jarang pula, Tenas terpaksa harus menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Sebagai tokoh masyarakat, Pak Tenas panggilan akrabnya terlibat pula dalam berbagai aktivitas organisasi kemasyarakatan, baik sebagai ketua, penasihat, maupun pengurus.

Sesungguhnya yang dilakukan Tenas Effendy tidaklah sekadar mengumpulkan dan mendokumentasikan segala yang berkaitan dengan khazanah kesusastraan Melayu. Kesusastraan adalah salah satu bagian dari sebuah mesin raksasa yang bernama kebudayaan. Jadi, sambil coba menafsirkan dan memaknai kandungan filosofis di balik khazanah kesusastraan Melayu, ia juga menerjemahkan dan membuka tabir makna berbagai benda budaya.
Biografi :
Nama : Tengku Nasyaruddin Effendy

Lahir : Pelalawan-Riau, 9 November 1936

Pendidikan :

Sekolah Agama Hasyimiah, (1950),

Sekolah Rakyat di Pelalawan, (1950)

Sekolah Guru B3 di Bengkalis, (1953)

Sekolah Guru A3 di Padang, (1957)

Karya :

Upacara Tepung Tawar (1968),

Lancang Kuning dalam Mitos Melayu Riau (1970),

Seni Ukir Daerah Riau (1970),

Tenunan Siak (1971),

Kesenian Riau (1971),

Hulubalang Canang (1972)

Raja Indra Pahlawan (1972),

Datuk Pawang Perkasa (1973),

Tak Melayu Hilang di Bumi, (1980),

Lintasan Sejarah Kerajaan Siak, (1981),

Hang Nadim, (1982),

Upacara Mandi Air Jejak Tanah Petalangan, (1984),

Ragam Pantun Melayu, (1985),

Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu, (1986),

Cerita-cerita Rakyat Daerah Riau, (1987),

Bujang Si Undang, (1988),

Persebatian Melayu, (1989),

Kelakar Dalam Pantun Melayu, (1990)

Penghargaan :

Juara 1 Mengarang Puisi Pada Pekan Festival Karya Budaya Dana Irian Jaya, (1962),

Juara 1 Pementasan Drama Klasik Pada Pementasan Drama Klasik Festival Dana Irian Jaya, (1962),

Seniman Budaya Pilihan (1997), Anugerah Sagang,

Tokoh Masyarakat Terbaik Riau 2002 versi Tabloid Intermezo Award (2002),

Penghargaan Madya Badan Narkotika Nasional, Jakarta (2003),

Anugerah Seniman dan Budayawan Riau Pilihan Lisendra Dua Terbilang (LDT)-UIR (2004),

Anugerah Gelar Sri Budaya Junjungan Negeri, Bengkalis, (2004),

Tokoh Budayawan Riau Terfavorit (2005),

Anugerah Budaya; Walikota Pekanbaru, (2005),

Tokoh Pemimpin Adat Melayu Serumpun, (2005),

Doktor Persuratan dari Universitas Kebangsaan Malaysia, (2005),

Penghargaan dari Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia, (2005),

Anugerah Akademi Jakarta (2006) <


Sumber : www.tamanismailmarzuki.com