Latest News
Muda | Islami | Inspiratif | Ideal | Aktif
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Malam Terakhir

Posted by MiNDa magazine online Selasa, 21 Juni 2011, under | 0 komentar
oleh: D Rusmawati


Segala yang bermula pasti akan berakhir, setiap yang berpangkal pasti
akan berhujung. Demikian juga dengan ceritaku ini. Tahun 1999 tercatat sebagai
malam pertama aku terlahir kedunia. Dari rahim seorang ibu yang bernama Asiah.
Sejak malam itu, aku menjadi bayi tersayang dan tercinta. Tahun ini umurku telah
beranjak dewasa. Bulan November kemarin umurku genap ke enam belas tahum.
Sepucuk surat bersampul putih dan berpita hitam tiba-tiba datang
kepadaku. Saat itu aku sedang duduk seorang diri di balik candela. Ku picingkan
mataku pada beberapa arah. Ku cari. Apakah ada seseorang di sekitarku. Siapakah
gerangan yang telah mengantarkan surat ini untukku.

Perlahan ku buka sampul srat ini. Ku baca dengan seksama. Jantungku
berdegub hebat. Sepucuk surat misterius hadir tiba-tiba kepadaku. Dalam surat
ini menyampaikan sebuah pesan. Supaya aku bersiap mengahadapi malam terakhir di
dunia. Aku akan mati esok hari. Alangkah terkejutnya aku dengan berita ini.
Segera ku ambil air wudlu, ku laksanakan sholat. Dari sholat wajib
dan juga sholat sunnah. Tidak ada satu detikpun waktu malam ini yang berlalu
dengan sia-sia. Ku baca al-Qur’an, ku pelajari buku-buku islamiyah, dan ku kaji
ulang pesan-pesan para guru-guruku selama di pesantren.

Aku masih ingat dengan pesan bapak Zuhri;”Kehidupan ini hanya
sementara, untuk numpang minum dan makan saja. oleh karena itu, menjadilah
seorang penumpang yang baik dan beretika sehingga Tuan yang di tumpangi akan
belas kasihan dan memberikan yang terbaik dari yang telah di punyai.” Aku tidak
faham sepenuhnya dengan pesan ini, maka aku bertanya.
“Ustad, minuman apakah yang di ibaratkan dalam pesan itu?”
“Minuman ini bermakna kesenangan. Sebuah kodrat manusia, apabila
mendapat kesenangan, maka ia akan melepas kesengan itu dengan cara yang di luar
aturan kebaikan. Sehingga ini bisa menyebabkan di kutuk Tuhan.” Aku semakin
tidak faham, dan aku kembali bertanya.
“Ustad, apa bentuk-bentuk kesengan yang di maksudkan?”
“Kesenangan boleh bermakna “harta, jabatan, dan keluarga.” Bila
kalian telah mendapati semua ini, maka jangan kalian terlena kesenagan bersama
mereka sementara Tuhan engkau lalaikan. Jangan pernah lakukan itu.”

Mungkin aku termasuk salah satu siswa yang paling senang bertanya. Dan aku
kembali bertanya kepada guruku.
“Bila air minum bermakna kesenangan, lantas makanan bermakna apa,
Ustad?”
“Kamu pelajar pintar bertanya!”
“Ya. Karena saya belum faham, bukankah lebih baik bertanya daripada
sesat di jalan. Apalagi ini masalah abstarak. Keilmuan yang hanya di ketahui
bila telah ada tafsiran yang dapat di terima oleh akal logika.”
“Ya. Kau akan ku beri nilai A ketika akhir semester.”
“Itu tidak terlalu penting.” Bisikku pelan.
“Makanan di sini bermakna segala kebahagiaan. Senang makan-makanan
mewah dan tidak bergizi. Dalam pesan ini menggunakan bahasa langsung tentang
makan. Biasanya, manuasia akan sangat mudah di rayu dengan keburukan bila
perutnya sedang lapar. Mungkin saja haus bisa di tahankan. namun, bila lapar,
barangkali sangat sulit untuk dapa di hindari.”
“Sejak kecil, saya berada di pondok. Makanan yang saya makan sangat
sederhana. Rumput-rumput sekeliling pondok, atau rumput-rumput di pekarangan
sekolah adalah makanan setiap hari. Seperti kangkung, bayam dan katu. Aku sangat
hemat terhadap apapun. Dalam satu bulan aku hanya mengahsabiskan uang sepuluh
ribu rupiah. Itupun karena ku gunakan untuk transporttasi. Aku juga sangat
jarang merasakan kebahagiaan. Apakah ada jaminan untukku masuk surga?”
“Tuhan menjanjikan. Untuk orang yang baik adalah srga. Itu pasti,
tetaplah berbuat kebaikan untuk mendapatkan surganya.”
“Aku baik di matamu, namun buruk di mataku sendiri.”
“Why?”
“Selama ini aku kurang bahagia di dunia, aku tidak menjadi orang
pandai, karena aku kekurangan gizi, aku tidak berfisik indah kerena aku tidak
terawat, dan aku hanya gembel, karena aku tidak boleh bersandang mewah.
Sementara di lain tempat, Tuhan mencintai keindahan dan keindahan dunia ini
untuk di manfaatkan, bukan untuk di haramkam. Sementara, selama ini kau selalu
mengharamkan yang khalal tanpa sepengetahuanmu. Sejak malam ini, tidak mungkin
aku kan memanggilmu guru. Kerena di sebabkan kamu, aku menjadi bimbang dalam
mengahadapi malam terakhir ini.”
“Oh.” Desah guruku.
“Kau tidak bisa memberikan kebanaran argumentasi. Kerena
kepercayaanmu kepada Allah, hanya sebuah kepura-puraan.”
“Maafkan aku!”
“Ya, ku terima maafmu, karena ini adalah malam terakhirku di dunia.”
“Temuilah janji Tuhanmu.”
Mentari pagi mulai menyapa dengan ramah. Sinarnya menghangatkan yang
kedinginan, dan memberi kesegaran seusai malam berganti. Sementara aku telah
netral berada di balik bungkusan kain kafan. Di kelilingi oleh sanak keluarga,
mereka menangis dan mengalirkan air mata. Alunan ayat-ayat suci al-Qur’an
bergema di cakrawala langit. Para tentara malaikat dengan rapi berbaris dan
tersenyum menyambut kedatanganku.
Janji itu menjadi kenyataan. Aku kembali kepada sang pencipta dengan tenang.
Terakhir jasadku di hantarkan oleh ayah dan ibu serta sanak saudara. Aku merasa
bahagia dengan berita melalui surat itu. Kini, kekasihkupun turut memperhatikan
ketika tubuhku di lempar batu dan di tutup tanah kuburan. Kini tercatat di atas
nisanku.” Telah beristirahat dengan tenang, Dewi, santri pesantren yang rajin
bertanya.”

Ketika Mas Gagah Pergi (Helvi Tiana Rosa)

Posted by MiNDa magazine online , under | 0 komentar


Ketika Mas Gagah Pergi
Oleh : HTR (Helvi Tiana Rosa)




Mas gagah berubah!
Ya, sudah beberapa bulan belakangan ini Masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah !

Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Teknik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja... ganteng! Mas Gagah juga sudah mampu membiayai kuliahnnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.

Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku kemana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak untukku.

Saat memasuki usia dewasa kami jadi makin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda bersama teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelucon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak-bahak. Dengan sedan putihnya ia berk
eliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan, Ancol.

Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya !

"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih ?"

"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang serumahku sering membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho ! Gila, berabe khan ?"

"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku ?"

Dan masih banyak lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku cuma mesam-mesem. Bangga.

Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum punya pacar. Apa jawabnya ?

"Mas belum minat tuh ! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran..., banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati ! He...he...he.." kata Mas Gagah pura-pura serius.

Mas Gagah dalam pandanganku adalah sosok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tapi tak pernah meninggalkan sholat !

Itulah Mas Gagah!

Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah ! Drastis ! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana...

--=oOo=-- "Mas Gagah ! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras.

Tak ada jawaban. Padahal kata mama Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa arab gundul. Tak bisa kubaca. Tapi aku bisa membaca artinya : Jangan masuk sebelum memberi salam!

"Assalaamuálaikuuum!" seruku.

Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.

"Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh. Ada apa Gita ? Kok teriak-teriak seperti itu ?" tanyanya.

"Matiin kasetnya !" kataku sewot.

"Lho emang kenapa ?"

"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah ! Memangnya kita orang Arab... , masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.

"Ini nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita !"

"Bodo !"

"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh dong Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek..., mama bingung. Jadinya ya, di pasang di kamar."

"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru..., eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"

"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan..."

"Pokoknya kedengaran!"

"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus, lho !"

"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" aku ngloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.

Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Kemana kaset-kaset Scorpion, Wham!, Elton John, Queen, Bon Jovi, Dewa, Jamrood atau Giginya ?

"Wah, ini nggak seperti itu, Gita ! Dengerin Scorpion atau si Eric Clapton itu belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lain lah ya dengan senandung nasyid Islami. Gita mau denger ? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok !" begitu kata Mas Gagah.

Oalaa !

--=oOo=-- Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma ‘adik kecil’nya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.

Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Sholat tepat waktu, berjama’ah di Masjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip di lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau baca buku Islam. Dan kalau aku mampir di kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya, "Ayo dong Gita, lebih feminin. Kalau kamu pakai rok atau baju panjang, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba Dik manis, ngapain sih rambut ditrondolin gitu !"

Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga nggak pernah keberatan kalau aku meminjam kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu sering memanggilku Gito, bukan Gita ! Eh, sekarang pakai manggil Dik Manis segala!

Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga mama menegurnya.

"Penampilanmu kok sekarang lain, Gah ?’

"Lain gimana, Ma ?"

"Ya, nggak semodis dulu. Nggak dandy lagi. Biasanya kamu yang paling sibuk dengan penampilan kamu yang kayak cover boy itu..."

Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini, Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."

Ya, dalam penglihatanku Mas Gagah jadi lebih kuno dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino," komentarku menyamakannya dengan sopir kami. "Untung saja masih lebih ganteng."

Mas Gagah cuma terawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu.

Mas Gagah lebih pendiam ? Itu juga sangat kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama atau becanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah, kebingungan.

Dan...yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan!! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?

"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau salaman sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di Sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang !"

"Justru karena Mas menghargai dia makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada amat sabar. "Gita lihat khan orang Sunda salaman? Santun meski nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"

Huh. Nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu..., sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya ?

Mas Gagah membawa sebuah buku dan menyorongkannya padaku. "Baca!"

Kubaca keras-keras. "Dari ‘Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah. Rasulullah saw tidak pernah berjabat tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhari Muslim!"

Si Mas tersenyum.

"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali...," kataku.

"Bukankah Rasulullah uswatun hasanah? Teladan terbaik?" kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengeti ya, Dik Manis !?"

Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel. Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik ! Aku jadi khawatir. Apa dia lagi nuntut ‘ilmu putih’? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa oleh orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun..., akhirnya aku nggak berani menduga demikian. Mas-ku itu orangnya cerdas sekali! Jenius malah! Umurnya baru dua puluh satu tahun tapi sudah tingkat empat di FTUI! Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya..., yaaa akhir-akhir ini ia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.

--=oOo=-- "Mau kemana, Git!?"

"Nonton sama teman-teman." Kataku sambil mengenakan sepatu. "Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya!’

"Ikut Mas aja, yuk!"

"Kemana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah! Gita kayak orang bego di sana!"

Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu yang lalu Mas Gagah mengajakku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tabligh akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku dilihatin sama cewek-cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya, aku kesana memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang nggak bisa aku sembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.

"Assalaamu’alaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.

Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman si Mas ini. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku..., persis kelakuannya Mas Gagah.

"Lewat aja nih, Mas? Gita nggak dikenalin?" tanyaku iseng.

Dulu nggak ada deh teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome!

Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt !"

Seperti biasa, aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal ke-Islaman, diskusi, belajar baca Al-Quran atau bahasa Arab..., yaaa begitu deh!!

--=oOo=-- "Subhanallah, berarti kakak kamu ikhwan dong!" seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah sebulan ini berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.

"Ikhwan?" ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.

"Huss! Untuk laki-laki ikhwan, untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita," ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa, kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."

Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.

"Udah deh, Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji! Insya Allah kamu akan tahu meyeluruh tentang dien kita. Orang-orang seperti Hendra, Isa, atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang eror. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya saja yang mungkin belum mengerti dan sering salah paham."

Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku menjelma begitu dewasa.

"Eh, kapan main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat, Gita..., meski kita kini punya pandangan yang berbeda," ujar Tika tiba-tiba.

"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah...," kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih..."

Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin. "Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk. Biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan pada Mbak Ana."

"Mbak Ana ?"

"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amrik malah pakai jilbab! Itulah hidayah!"

"Hidayah ?"

"Nginap, ya ! Kita ngobrol sampai malam sama Mbak Ana!"

--=oOo=-- "Assalaamu’alaikum, Mas Ikhwan..., eh Mas Gagah !" tegurku ramah.

"Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.

"Dari rumah Tika, teman sekolah," jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?" tanyaku sambil mengintari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, ganbar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku ke-Islaman..

"Cuman lagi baca !"

"Buku apa ?"

"Tumben kamu pengin tahu?"

"Tunjukin dong, Mas...buku apa sih?" desakku.

"Eit..., Eiiit !" Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.

Kugelitik kakinya, dia tertawa dan menyerah. "Nih!" serunya memperlihatkan buku yang sedang dibacanya dengan wajah setengah memerah.

"Nah yaaaa!" aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku ‘Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam’ itu.

"Maaaas..."

"Apa Dik manis ?"

"Gita akhwat bukan sih ?"

"Memangnya kenapa ?"

"Gita akhwat apa bukan ? Ayo jawab...," tanyaku manja.

Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara kepadaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami ummatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu jadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal lainnya. Dan untuk petamakalinya setelah sekian lama, aku merasa kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.

Mas Gagah dengan semangat terus berbicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikkan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya!!

"Mas kok nangis?"

"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Al Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena ummat yang banyak meninggalkan Al-Quran dan Sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di Belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan, dan tidur beratap langit..."

Sesaat kami terdiam. Ah, Masku yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli...

"Kok...tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" tanya Mas Gagah tiba-tiba.

"Gita capek marahan sama Mas Gagah !" Ujarku sekenanya.

"Emangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"

"Tenang aja, Gita nyambung kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan hal demikian. Aku ngerti deh meski nggak mendalam.

Malam itu aku tidur ditemani tumpukan buku-buku Islam milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah!

--=oOo=-- Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi sepeti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan berbeda dengan yang dahulu.

Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum. Atau ke tempat-tempat tabligh Akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah, kadang-kadang bila sedikit kupaksa Mama Papa juga ikut.

"Masa sekali aja nggak bisa, Pa…, tiap minggu rutin ngunjungin relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.

Biasanya papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"

Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung juga. Soalnya pengantinnya nggak bersanding tapi terpisah! Tempat acaranya juga gitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu dibagikan risalah nikah juga. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran, harus Islami dan semacamnya. Ia juga wanti-wanti agar aku tak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek!

Aku nyengir kuda.

Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku. Soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.

"Nyoba pakai jilbab, Git !" pinta Mas Gagah suatu ketika.

"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol! Lagian belum mau deh jreng!"

Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun kalau pakai jilbab dan lebih dicintai Allah. Kayak Mama".

Memang sudah beberapa hari ini mama berjilbab. Gara-garanya dinasehatin terus sama si Mas, di beliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin sama teman-teman pengajian beliau.

"Gita mau, tapi nggak sekarang...," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktifitasku kini, prospek masa depan (ceila) dan semacamnya.

"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.

Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu kok cepat sekali terpengaruh sama Mas Gagah!

"Ini hidayah, Gita!" kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.

"Hidayah? Perasaan Gita duluan deh yang dapat hidayah baru Mama! Gita pakai rok aja udah hidayah!"

"Lho?" Mas Gagah bengong.

--=oOo=-- Dengan penuh kebanggaan, kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara Studi Tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya! Aku yang berada di antara ratusan peserta ini rasa-rasanya ingin berteriak, "Hei, itu kan Mas Gagah-ku !"

Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa! Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasul. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung lho, kok Mas Gagah bisa sih? Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yamh dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar!

Pada kesempatan itu juga Mas Gagah berbicara tentang muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi.

"Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana taqwa, sebagai identitas muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam sendiri," kata Mas Gagah.

Mas Gagah terus bicara. Tiap katanya kucatat di hati ini.

--=oOo=-- Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdalah.

Aku mau ngasih kejutan buat Mas Gagah! Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapan tasyakuran ultah ketujuh belasku.

Kubayangkan ia akan terkejut gembira, memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberikan ceramah pada acara tasyakuran yang insya Allah mengundang teman-teman dan anak-anak panti yatim piatu dekat rumah kami.

"Mas Ikhwan!! Mas Gagaaaaah! Maaasss! Assalaamu’alaikum!" kuketuk pintu kamar Mas Gagah dengan riang.

"Mas Gagah belum pulang," kata Mama.

"Yaaaaa, kemana sih, Ma??!" keluhku.

"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus..."

"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Masjid."

"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah inget ada janji sama Gita hari ini," hibur mama menepis gelisahku.

Kugaruk-garuk kepalaku yang tak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali dengan Mas Gagah.

"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh !" Mama tertawa.

Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.

--=oOo=-- Sudah lepas Isya. Mas Gagah belum pulang juga.

"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..." hibur Mama lagi.

Tetapi detik demi detik, menit demi menit berlalu. Sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.

"Nginap barangkali, Ma?" duga Papa.

Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa!"

Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.

"Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinggg !!" Telpon berdering.

Papa mengangkat telepon. "Halo, ya betul. Apa? Gagah???"

"Ada apa , Pa?" tanya Mama cemas.

"Gagah..., kecelakaan..., Rumah Sakit… Islam...," suara Papa lemah.

"Mas Gagaaaaaahhh!!!" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.

Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.

--=oOo=-- Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Tangan, kaki, kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar, sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika, sedang kondisi Mas Gagah kritis.

Dokter melarang kami untuk masuk ke dalam ruangan.

"Tapi saya Gita, adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau lihat saya pakai jilbab iniii!" kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.

Mama dengan lebih tenang merangkulku, "Sabar, Sayang..., sabar."

Di pojok ruangan papa tampak serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.

"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada syukuran Gita kan?" air mataku terus mengalir.

Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding putih rumah sakit. Dan dari kamar kaca kulihat tubuh yang biasa gagah enerjik itu bahkan tak bergerak!

"Mas Gagah, sembuh ya, Mas..., Mas...Gagah..., Gita udah jadi adik Mas yang manis. Mas...Gagah...," bisikku.

Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit.. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah..., Gita, Mama dan Papa butuh Mas Gagah..., umat juga."

Tak lama dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama ibu, bapak, dan Gi..."

"Gita.." suaraku serak menahan tangis.

"Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya seperti permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya..., lukanya terlalu parah," perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!

"Mas..., ini Gita, Mas...," sapaku berbisik.

Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.

Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai.. jilbab," lirihku. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.

Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.

"Dzikir..., Mas,’ suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat wajah Mas Gagah yang separuhnya tertutup perban. Wajah itu begitu tenang...

"Gi...ta..."

Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali!

"Gita di sini, Mas..."

Perlahan kelopak matamya terbuka.

Aku tersenyum. "Gita... udah pakai... jilbab...," kutahan isakku.

Memandangku lembut, Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdalah.

"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas...," ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.

Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah..., sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali!

Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan Mas Gagah tampaknya menginginkan kami semua berkumpul.

Kian lama kurasakan tubuh Mas Gagah semakin pucat. Tapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia juga masih bisa mendengar apa yang kami katakan meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.

Kuusap setitik lagi airmata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak..., Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup. Tapi sebagai insan beriman, seperti juga yang diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.

"Laa...ilaaha...illa...llah..., Muham...mad...Ra...sul...Al...lah...," suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk kami dengar.

Mas Gagah telah kembali pada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya.

Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi.

Selamat jalan, Mas Gagah !


Epilog
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi,
Semoga memperoleh umur yang berkah,
Dan jadilah muslimah sejati
Agar Allah selalu besertamu.
Sun Sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah !Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku.

Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.

Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, Aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Ilahi yang selamanya tiada kudengar lagi. Hanya wajah para Mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema di ruang ini...

Setitik air mataku jatuh lagi.

"Mas, Gita akhwat bukan sih?"

"Ya, Insya Allah akhwat!"

"Yang bener?’

"Iya, dik manis!"

"Kalau ikhwan itu harus ada jenggotnya, ya?!"

"Kok nanya gitu?"

"Lha, Mas Gagah ada jenggotnya!’

"Ganteng kan?"

"Uuu! Eh, Mas, kita kudu jihad, ya? Jihad itu apa sih?"

"Ya always dong ! Jihad itu... "

Setetes, dua tetes, air mataku kian menganak sungai.

Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan.

Selamat jalan, Mas Ikhwan ! Selamat jalan, Mas Gagah !



Depok, 1993


http://www.imansafrilukman.co.cc/2011/01/ketika-mas-gagah-pergi.html#more

RUMAH CERPEN

Posted by MiNDa magazine online Rabu, 30 Maret 2011, under | 0 komentar
CERPEN 1: EDISI MARET 2011



SUATU KETIKA DI PALESTINA

Malam ketika itu dingin. Meski demikian, Safar tetap dalam lelapnya karena kelelahan mengerjakan tugas kampus siang tadi. Rumah kontrakannya sepi, tiada suara terdengar kecuali sesekali desah truk atau mobil, lewat dijalan yang tak begitu jauh dari kediamannya itu. Ketika itu pukul 11.05 malam.
***
Dan malam itu benar-benar pekat. Sepekat asa yang berlipat-lipat di antara penghuni rumah-rumah yang tersusun redup. Meredup bersama rembulan yang seakan bertutur sedih di sudut-sudut jendela rumah yang berdiri di bumi tandus ini, di tanah yang selalu jadi saksi kebiadaban ambisi-ambisi duniawi.
Wajarkah penghuni negeri ini menerima semua kebiadaban tersebut? Wajarkah mereka mendapatkan perlakuan kejam ini? Lihat! Betapa sebuah kedaulatan diinjak-injak oleh kesombongan mereka yang ingkar akan perintah Allah. Lihat! Mereka dengan jelas-jelas mendobrak undang-undang. Lihat! Mereka benar-benar pintar memutarbalikkan fakta. Tak sadarkah kita? Mereka menjajah kami, menjajah kita semua! Mereka ingin agar Islam segera ditinggalkan! Mereka ingin agar kita melupakan akhirat!
Kebiadaban itupun belum usai. Entah kapan ia berakhir. Tapi ia pasti berakhir. ia pasti suatu saat, selesai bersama kejayaan para perindu kebenaran. Ketika penindasan ini terasa seperti sebuah ‘keharusan’ bagi sebagian orang, sebagian lain tetap berada dalam dunia tertindas bersama fitnah-fitnah yang dilahap dari media-media tak bertanggung jawab, kertas-kertas berita yang memutarbalikkan fakta, informasi seakan akurat, yang sebenarnya tidak objektif. Dunia ini menyuguhkan para perwira tangguh penegak bendera Allah!
Safar melihat potongan-potongan realita cerita. Ia menyaksikan mozaik-mozaik ‘videoclip’ sebuah kisah realita. Dan ketika itu, ia melihat seorang ibu dan anak berdialog singkat, sangat singkat..
“Ummi, mengapa kita harus hidup seperti ini?” tanya seorang anak dengan nada masih tak mampu menyimpan ketakutan karena hampir setiap waktu suara gelegar pesawat zionist dan dentuman bom memenuhi dunia sehari-hari mereka.
Sang ibu hanya diam, mengusap rambut anak kandung satu-satunya itu. Beliau menyeka air mata putranya yang baru berusia lima tahun tersebut. Itu air mata kesedihan sekaligus ketegaran..
Di luar rumah mereka, sejenak suasana sunyi. Namun beberapa waktu kemudian, terdengar ledakan di beberapa tempat. Suara raungan ambulan pun tiada mau kalah di antara tangisan wanita dan anak-anak di reruntuhan, dan itu seakan jadi hal yang biasa bagi bangsa itu..
Berlari bersama kematian, dan kematian menjemput mereka di bawah reruntuhan tembok. Di antara desingan peluru-peluru jahiliah. Dalam tank-tank yang hadir untuk kehancuran dan kepedihan..
Safar berdiri di sana. Ia diam. Bulir air matanya mengalir tiada sadar olehnya. Ia kesat air mata itu perlahan. Seketika itu juga terdengar suara torpedo meluluhlantakkan sebuah rumah, sangat dekat dengan posisi lelaki itu. Selang seketika ia mendengar jeritan seorang anak.
Di manakah aku? Nalurinya bertanya.
Ia lalu berusaha mencari tahu, berjalan di jalanan berdebu.
Terkadang, Safar bersembunyi bawah pohon karena ketakutan. Kebingunanpun menyertainya. Suara-suara bom masih sering mengalunkan irama kematian. Ia tiada melihat seorangpun di sana, tiada seorangpun. Andai ia bertemu, hasratnya ia ingin bertanya. Di manakah sebenarnya tempat ini? Nerakakah?
Keletihan menyelubungnya. Ia lelah. Matanya berkunang-kunang. Dan, ketika itu juga, ada bayangan seseorang di antara asap-asap tebal dan suara-suara kemusnahan. Itu bayangan seorang laki-laki yang berdiri dengan jarak tidak lebih dari dua meter darinya.
Safar berusaha mengamati lelaki itu seksama. Pandangan lelaki yang tak ia kenal itu begitu teduh. Kafiyeh merah sedikit berkibar oleh angin malam.
Safar mendekat, lalu rebah.
Lamat-lamat suara itu terdengar. Perlahan. Ia berusaha membuka bola matanya, meski terasa begitu berat. Ketika itu juga, ia mendengar suara beberapa lelaki berdiri di kanan kirinya, mengucapkan syukur kepada Allah. Ia ketika itu masih terbaring tak berdaya di tempat tidur.
Ia mendapati dirinya sekarang terbaring lelah di dipan, di sebuah ruangan kecil. Ada meja kecil, dan selebihnya kosong di ruangan itu. Safar berusaha bangun, namun dicegah oleh seorang ikhwan di samping kanannya,
“Sebaiknya antum istirahat saja.”
Safar menuruti anjuran ikhwan itu. Ia yakin ikhwan itulah yang ia lihat terakhir sebelum ia tak sadarkan diri, bahkan ia yakin, mereka adalah orang-orang baik.
***
Ia terisak, lagi lagi tanpa sadar. Ia seolah sedang melihat seorang sahabat yang telah lama terpisah. Mereka saling berpelukan. Sejenak, tiada sua, tiada kata-kata..
“Lihatlah wahai saudaraku. Mereka menodai kemerdekaan negeri ini. Mereka menghancurkan kehidupan kami. Mereka bahkan ingin menghancurkan mesjid bersejarah umat Islam, mesjid al Aqsa!” kata-katanya begitu berat, tersendat.
Safar menatap setiap saudaranya di ruangan itu. Ia mulai mengerti sekarang di mana ia berada. Gurat kesedihan jelas terlihat di wajah Safar.
“Palestina?” tanya Safar. Ia melihat sekeliling. Hampir tiada keceriaan terlihat di tiap sudut dunia negeri ini. Penindasan, pelanggaran HAM, pembunuhan.
Kami mohon do’a dari antum, saudaraku seiman. Masalah negeri kami juga masalah umat Islam, saudaraku. Lakukanlah apa yang antum sanggup untuk negeri yang kini berduka ini. Perlihatkan pada seluruh dunia, saudaraku, bahwa zionistlah yang sesungguhnya terorist, zionist!”
Suara itu menggema, dan gelap merayap.
Safar terbangun dari tidurnya. Ia melihat jam di dinding, jam 02.35 dini hari. Entah mengapa, fikirannya masih mengingat-ingat peristiwa itu, peristiwa yang ada dalam memori mimpinya.
Setelah melaksanakan sholat malam, Safar manghampiri komputer yang ada di sudut kamarnya. Dini hari itu, ia mulai menulis artikel tentang pembelaan terhadap pembebasan Palestina yang selama ini tak begitu ia pedulikan.***


Oleh Fathromi (Pengurus FLP Pekanbaru, Pimpro Albes, Mhs UIN Suska Riau)

(cerpen ini merupakan salah satu dari buku kumpulan cerpen 'Kerdam Cinta Palestina' FLP Se-Sumatera terbitan Folipenol, 2010)


_____________________________________________________________________________________


CERPEN 2:EDISI APRIL 2011

Masjid Munafik

Posted by Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd. Rabu, 10 Februari 2010, under | 1 komentar
Wonosari, 23 Desember 2008

Kegelapan mulai membayang, mentari merah mulai menarik diri ke peraduan. Anak-anak Desa Wonosari berlarian pulang ke rumah mematuhi panggilan para ibunya. Sayup-sayup di ujung desa terdengar sebuah kumandang azan, hanya sekali, lalu suara itu pun tenggelam ditelan malam. Suasana desa kembali hening. Kesunyian malam juga tampak di Masjid Hidayah, masjid bercat hijau yang terletak di pertengahan desa. Lengang, tak seorang pun tampak di sana. Teras masjid masih dipenuhi beberapa dedaun akasia yang berserakan, pemandangan di dalam masjid pun masih gelap. Entah kemana para penduduk masjid ini. Irsyad sang gharim masjid pun tak kelihatan.

“Rohim, masjid kenapa tak ada yang azan? Mau jadi apa kampung mu ini?”

Seorang wanita tua tergopoh-gopoh menuju rumah panggung di sebelah mesjid. Seorang lelaki paruh baya keluar dari dalam rumah.

“Lho, saya kurang tau, Mbah, itu tugas Irsyad. Lagi pula malam ini imam giliran Pak Soleh, harusnya Rahmat yang sudah datang duluan.”

“Kamu ini gimana sih, Him, mau masuk surga kok pakai giliran? Sudah gila orang kampung mu ini. ”

“Aduh, si Mbah kayak nggak mengerti saja. Saya tak mau ke masjid kalau imamnya Pak Soleh, titik!”

“Jadi sekarang aku mau jamaah sama siapa?”

“Di rumah sajalah, Mbah, saya saja yang masih muda malas mengurusi masalah itu.”

Wanita tua itu tampak mengomel tak jelas. Dengan terbungkuk ia berjalan kembali menuju rumahnya. Kekecewaan jelas terbalut di wajah tuanya. Rohim tanpa ekspresi kembali masuk ke dalam rumah. Malam semakin tenggelam, waktu magrib pun berlalu begitu saja di Masjid Hidayah.

***

Wonosari, 24 Desember 2009

“Pak Yai, malam besok ke masjid ya! Kita mau bahas soal pengajian bulanan yang sudah lama tak jalan.”

“Si Soleh masih mengajar ngaji di masjid?”

“Ya iya, tak ada lagi yang lain.”

“Malas aku.”

“Kenapa, Pak Yai?”

“Pokoknya kalau ada Soleh aku tak mau ke masjid. Dia itu orang baru tapi lagaknya macam pendekar.”

Lelaki setengah baya yang dipanggil Pak Yai tadi menuangkan kopi dari dalam teko. Segelas kopi tersebut disuguhkannya di depan Irsyad. Pemuda itu meneguk sedikit kopi tersebut, lalu ditatapnya kembali wajah Pak Yai, masih menunggu kalau-kalau lelaki itu akan berubah pikiran.

“Tapi ini undangan dari ketua yayasan, Pak Yai.”

“Si Somat?”

Irsyad lalu mengangguk pelan, tangannya membuka map hijau yang ia letakkan di meja. Diraihnya sepucuk kertas putih berlipat.

“Ini undangannya, Pak Yai, kami tunggu kehadirannya.” Irsyad menyodorkan kertas berlipat tersebut.

“Mungkin aku tetap tak bisa datang, Syad. Aku juga kecewa dengan si Somat itu.”

“Kecewa? Maksudnya?”

“Aku tau betul asal usul Somat bikin masjid itu. Dulu warga sini jauh sekali kalau mau ke masjid, lalu Somat yang waktu itu mencalonkan diri jadi anggota dewan mendirikan masjid untuk kami, dengan harapan kami akan memilihnya saat pemilu. Yang mengelola mesjid itu juga para tim suksesnya, biasalah minta dukungan kita.”

“Tapi itukan sudah lama, Pak Yai. Pak Somat juga sudah bukan anggota dewan lagi sekarang.”

“Si Somat itu tak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Lihat saja, dia sendiri bangun masjid tapi datang ke masjid juga tak pernah.”

“Tapi, Pak Yai…”

“Apa? Si Soleh itu juga orang kepercayaannya Si Somat, sama saja mereka itu.”

“Astaghfirullah, tapi kita kan tetap wajib ke masjid, Pak Yai.”

“Alah…aku kalau mau ke mesjid lebih baik ke kampung seberang. Masjidmu itu udah jadi sarangnya orang munafik.” Irsyad tak menyahut, ia pun tak berlama-lama lagi menunggui lelaki itu. Gharim Masjid Hidayah itu buru-buru pamit meninggalkan Pak Yai yang masih asyik dengan segelas kopinya.

***

Wonosari, 25 Desember 2009

“Hanya kau yang bisa menyelesaikan masalah ini, Syad!” Rahmat menatap dalam mata Irsyad, seolah mencari persetujuan di sana. Tapi yang ditatap tak bergeming. Pemuda itu menunduk dan mendesah putus asa.

“Aku bukan siapa-siapa di sini, Mat. Lagi pula aktivitasku masih cukup padat di kampus. Aku juga masih sering dimarahi oleh Pak Somat.”

“Tapi kita tidak bisa membiarkan masjid selalu kosong begini, Syad. Imam dan para guru ngajinya berselisih, yang punya masjid tak peduli, masing-masing imam punya massa, akhirnya satu pun tak ada yang mau ke masjid. Kita sudah punya niat baik mengumpulkan mereka, nyatanya mereka tetap tak mau hadir.”

“Aku tak sanggup, Mat.” Irsyad kembali mendesah lemah.

Rahmat terdiam. Selama ini Irsyadlah yang punya posisi strategis. Selaku penjaga masjid pemuda ini cukup dipercaya oleh para imam masjid. Karena sikapnya yang baik, orang selalu percaya dan tak pernah dilibatkan dalam masalah. Itulah sebabnya dia begitu yakin Irsyad bisa menyelesaikan konflik penduduk masjid yang berpanjangan. Sementara dirinya telah dicap menjadi orang kepercayaan Pak Soleh, hanya karena ia menjadi mitra bisnis Pak Soleh.

“Hal begini tidak hanya terjadi di masjid kita saja, Mat.”

“Iya, aku juga tau. Masjid Jannah, Masjid Ikhlas, semuanya punya konflik yang tak jauh beda. Aku takut, Syad.”

“Apa?”

“Ntahlah, sesuatu mungkin bisa terjadi.”

Keduanya terdiam. Ada sorot ketakutan di wajah masing-masing, tapi tak terjawab, keduanya hanya saling menatap.

***

Wonosari, 1 Januari 2009

“Beginilah, Bang, kondisinya. Ini semua salahku, aku penuh dosa,” suara Irsyad tertahan mengakhiri ceritanya. Butiran bening terselip di sudut matanya, ia menundukkan wajahnya tak mampu menatapku. Penyesalan yang amat mendalam tersirat di rautnya.

Aku menatap ngeri. Inikah yang dinamakan kiamat lokal? Gempa berskala 7,6 telah meluluh lantakkan wilayah perkampungan ini. Rumah-rumah rata dengan tanah, bangunan roboh tak berbentuk lagi. Bau mayat menyengat di sana-sana. Warga yang selamat hidup menyusuri hari-hari dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

“Rahmat selamat? Yang lain?” tanyaku coba mengalihkan kesedihannya. Tapi mungkin pertanyaanku salah, kesedihan di mata Irsyad tampak kian mendalam.

“Rahmat sempat selamat, tapi saat dibawa ke tenda pengobatan dia meninggal. Dia tertimbun di bangunan rumahnya selama sehari semalam, tulang tubuhnya sebagian patah.”

Aku tercenung. Mengingat-ingat kembali sebuah ceramah ustadz yang pernah kudengar, bahwa salah satu penyebab terjadinya bencana yang menimpa manusia adalah karena berdirinya masjid-masjid munafik. Masjid yang didirikan tidak untuk kepentingan menyembah Allah, namun untuk tempat berselisih satu sama lain.

“Semuanya jadi pelajaran,” sahutku pelan.

“Ya, terutama untuk orang sepertiku, Bang.”

Aku menarik nafas dalam, kubiarkan Irsyad tenggelam dengan perasaannya. Kuedarkan kembali pandangan ke sekelilingku. Puluhan ibu-ibu tampak antre berpanas-panas menunggu jatah sembako yang dikirimkan pemerintah di sebuah posko. Beberapa anak kecil yang digendong ibunya kulihat menangis tak tahan dengan panjangnya antrian, mungkin juga mereka kehausan karena jatah air bersih yang mereka dapatkan sangat terbatas. Beberapa warga yang telah mendapatkan jatah tampak aura bahagia menghiasi wajah mereka, meski hanya satu kilogram gula dan minyak yang mereka dapatkan. Aku terenyuh, inilah potret negeriku yang tak kunjung putus dirundung bencana. Hari ini di kampung ini, besok di tempat lain, begitu seterusnya. Mungkin kedurhakaan kompleks telah dilakukan penduduk negeri, sampai Tuhan langganan menaburkan bencana silih berganti.

“Bang, berapa lama di sini?” suara Irsyad membuyarkan lamunanku.

“Satu minggu, Syad. Kenapa?” sahutku.

“Lebih dari itu kami sangat bahagia, Bang. Bantulah kami mengumpulkan puing-puing masjid dan rumah kami lagi yang telah berserakan.”

Kali ini aku tak dapat menahan rasa haru. Cepat kuhapus bening yang meluncur di pipiku, sebelum Irsyad melihatnya. “Keluargamu bagaimana?” tanyaku.

“Hanya Ibu yang selamat” jawabnya lirih.

Aku tak bertanya lagi. Kuraih lengan Irsyad dan kuselipkan selembar uang seratus ribu di sakunya. Dia menatapku serba salah. Dan kubalas dengan senyum tipis.

“Ambillah, mungkin sekarang belum berguna, tapi pasti akan berguna.”

Irsyad berucap terima kasih, kami berjalan beriringan menuju salah satu tenda posko bantuan. Maafkan aku, Syad, aku tak punya apa-apa untuk membantumu. Juga untuk warga kampung yang selamat. Aku hanya berusaha menjadi relawan yang betul-betul rela, belajar banyak dari sebuah peristiwa.

(
Penulis: Nabila Shasha. Diposting: Senin, 25 Januari 2010 / 13:53:49 | di Annida Online | Kategori: Cerpen)

Percakapan Langit

Posted by Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd. Selasa, 24 November 2009, under | 0 komentar
Aku memandang langit. Bola mataku menjilati tetaburan bintang seperti bintik ribuan kunang-kunang. Dalam diam, aku bergumam. Bercakap-kacap dalam kesendirian. Sesekali kudapati sebuah bintang terang menyapaku dengan senyuman. Aku tersenyum.

“Kau gadis yang manis,” goda sang bintang.

Aku membalas dengan cengengesan.

“Sampai malam-malam begini, menunggu siapa?” tanyanya lagi.

Aku menggeleng pelan.

“Menunggu ibumu?”

Aku menggeleng kuat.

“Tidak lagi menunggu siapa-siapa.”

Bintang itu pun diam. Aku berharap dia bertanya lagi tentang apa saja asalkan jangan tentang mama. Selalu saja membuat tubuhku mengigil ngilu mendengar kata itu. Kuharap tak ada yang menanyakan tentang mama padaku.

“Betapa indahnya kalau aku bisa sepertimu. Tinggi dan tak ada yang mampu menandinginya.”
Bintang itu tersenyum tipis. Lalu membuang tatapannya ke arah lain. Melirik sebentar ke arah ufuk dengan tatapan gelisah. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.

“Tidak semuanya benar. Aku kira menjadi manusia lebih senang. Bisa pergi kemana pun sesuka hatinya. Sedangkan aku, seperti yang kau lihat hanya berdiri terpaku di sini. Sungguh, jika aku bisa memilih, aku tak pernah berkeinginan berada di tempat ini. Aku ingin sepertimu,” tatapan matanya begitu senduh.

Kulihat roman bintang itu kian murung. Warna wajahnya yang dari selepas magrib tadi begitu benderang berlahan-lahan luntur. Aku tak menduga ia akan mengatakan itu.

“Kau lihat ke ufuk sana,” ia melirik lagi ke arah timur, mataku mengikutinya “bulan itu telah mengambil keindahan senyumku dan juga teman-temanku. Cahaya kami tak ubahnya seperti lilin yang disiram lampu sorot. Ketika bulan itu mendaki kaki langit, berangsur-angsur kami akan tersisih dan hanya menjadi bintik-bintik redup yang malang.”

“Tapi kau tetap bintang yang cantik. Aku jujur,” senyumku menghiburnya.

Ia juga tersenyum tipis dan kecut. Seakan pasrah dengan putaran malam dan siklus waktu yang harus menghadirkan purnama malam ini, berlahan ia menutupi wajahnya lalu menjauh.

“Besok kita berjumpa lagi. Senang mengenalmu gadis manis.”
***

Malam ini aku kembali menatap langit. Mencari-cari wajah bintang kemerahan yang telah menjadi sahabatku beberapa malam ini. Angin dari sore tadi membuat dadaku berdebaran. Dengan rajinnya mereka mengangkuti awan-awan entah dari mana lalu menumpuknya di langit tepat di atas jendela rumah panggungku. Mungkin sebentar lagi rinai atau bahkan hujan lebat sepanjang malam. Guntur mulai berdentam-dentam menampar langit. Gerimis mendesah di atas atap seng. Tak berselang lama gemuruh air jatuh berebutan memukul-mukul atap seng. Tempias berloncatan girang membilas wajahku.

Jendela masih kubuka. Seberkas remang sinar lampu sorot pompong menyelinap menyapu mukaku. Biasanya kalau tidak lagi hujan, aku dapat mendengar riak belahan air sungai yang terbelah haluan pompong. Menggemericik membentur bibir turap. Aku menikmatinya sebagai melodi malam yang rajin ditingkahi celoteh kodok yang riuh.

Aku ingin mengatakan kepada sahabatku itu. Betapa inginnya aku menjadi seekor kupu-kupu. Jika aku punya sayap-sayap indah seperti kupu-kupu biru, aku bisa terbang sesuka hatiku. Hinggap di bunga menghisap naftar manisnya. Dari satu kuntum ke kuntum bunga lainnya. Lalu terbang ke langit menjumpainya. Aku ingin sekali melihat wajahnya dari jarak dekat. Tentu ia adalah bintang yang paling cantik.

Tapi, apakah ia mau bersahabat denganku kalau tahu bahwa aku bukanlah gadis yang sempurna. Aku hanyalah gadis berkaki pincang. Metamorfosis yang gagal. Jalan hidup yang redup. Tak bernyala. Gelap dan hanya gulita. Hidup dari penolakan satu ke penolakan yang lain. Teramat menyakitkan.

Mama pun, sebagai orang satu-satunya yang aku milik, terasa jauh dari hidupku. Ada tembok yang berdiri kokoh di antara kami. Mungkin tembok itu sudah ada sejak aku belum lahir. Aku merasa mama tak pernah menganggap aku anak kandungnya. Sampai detik ini, aku masih merasakan dia orang lain dalam hidupku. Wanita itu telah melahirkanku dengan amarah, dendam dan kebencian. Aku merasakan kebenciannya terus meluap dari hari ke hari.

Tatapan matanya selalu menegaskan garis kemarahan dan dendam yang tak pernah terbalaskan. Tamparan, cacian, hardikan adalah makanan harianku. Semua kesalahannya tumpah menjadi kesalahanku. Sekecil apapun kesalahanku adalah petaka. Tak salah pun aku disalah-salahkan. Tangannya begitu ringan melayangkan tamparan dan pukulan yang mengilukan tulang pipiku. Tak jarang mama melecutku dengan ikat pinggang. Aku melolong, menjeri dan meminta ampun sampai parau. Mama malah makin kesetanan.

Kelahiranku hanyalah aib yang tak pernah mampu dibasuhnya walau dengan tujuh samudera. Itu bukan salahku. Karena aku tak pantas jadi tumbal dosa masa lalunya. Tubuh kurusku tak ubahnya seperti cemara angin yang terus dan terus diamuk badai amarahnya.

Perlakukan mama makin tak tertahankan. Aku selalu menjadi bahan pelampiasan ledakan amarahnya. Lidahku sampai detik ini masih keluh memanggilnya mama. Tapi aku tak tahu kenapa dia harus meminta, kalau tidak bisa dikatakan memaksa, aku memanggilnya mama. Itu namanya yang kegedong-gedongan. Seharusnya dia memintaku memanggilnya ibu, emak atau amak seperti teman-temanku menyebut ibunya. Jujur, aku lebih suka menyebutnya ibu setan. Aku hanya mampu menggerutu, mendongkol dan memendam kebencian.

Mama selalu pulang larut malam. Tak jarang mengajak teman kencannya ke rumah. Aku selalu berharap salah satu dari lelaki itu adalah orang yang pantas aku panggil ayah. Tak mungkin aku lahir tanpa seorang ayah. Mama akan marah besar kalau aku menanyakan di mana lelaki yang telah menanam benih ke rahimnya. Aku merindukannya. Bentakan Mama membuat aku ciut untuk menanyakan prihal ayah.

Hari-hari berjalan lambat. Aku selalu duduk termangu di depan jendela. Rumah panggung kami persis di tepi Sungai Siak. Mama menyewanya hampir enam bulan yang lalu. Menatap riak Sungai Siak. Pompong mengusik permukaan datar sungai, meriakan air yang berdecah membentur turap sungai. Sesekali terdengar klatson kapal jelatik yang menggetarkan udara, memekakan telinga. Sampan-sampan yang ditambatkan di tepian menari naik turun sealunan imbas pompong yang lalu lalang.

Aku terus menunggu sampai hujan tak lagi menjatuhkan air dari langit. Sudah berapa lama aku menungu di depan jendela aku pun tak tahu.
***

Ada batang besar yang menghimpit tubuhku. Bau aneh yang menusuk. Ini bukan aroma sungai, juga bukan bau asin laut. Aku menggeliat. Benda aneh itu menempel di dadaku. Mengeranyangi, meremas dan membuat mual. Aku terjaga. Berteriak. Dengus nafas birahi. Keparat! Bajingan! Lelaki itu menyeringai dalam gelap. Suara wanita tertawa, terkekeh, lalu seperti ceracau yang kacau.

Tanganku meronta. Karena terkejut, dia merenggangkan tubuhnya dari tubuhku. Kuterjang bagian selangkangnya. Dia mengaduh, melolong kuat dan hilang keseimbangan. Suara ceracau wanita itu meledak menjadi tawa terbahak-bahak. Lelaki bajingan itu tersunggur memegang kemaluannya.

“Haha... rasain! Cewek pincang pun kau lahap. Tau rasa...!!! Haha... haha...!”

Aku menerobos gelap, memburu keluar. Air mataku tumpah bersimbah disambut dingin angin malam. Kubenahi bajuku yang koyak. Kumasih mendengar suara tawa wanita itu. Dia itu ibu setan. Anaknya hendak diperkosa dia masih bisa tertawa. Sumpah-serapah lelaki bajingan itu meningkahi tawa Mama.

Kaki telanjangku terus berlari terseok-seok. Tak peduli walau sesekali aku terjerembab dalam lubang berkuah air hujan. Lalu bangkit lagi dan berlari. Sesekali menoleh ke belakang. Takut lelaki srigala itu mengejarku lalu mencabik-cabik tubuhku.

Tubuhku lunglai. Tak bertenaga lagi. Aku terduduk di tepi jembatan Leghton. Rintik gerimis membasahi bajuku. Sisa-sisa lumpur kubangan jalan masih menempel di pakaianku. Tulang-tulangku menggeletuk menahan dingin. Air mataku terus mengalir. Isakku mengering. Kalut, putus asa, hilang arah.

Tak ada lagi deru mobil yang menderam di atas jembatan. Kota telah terlelap dalam tidur. Hanya suara kodok yang bernyanyi, bersahutan, bersuka ria menarikan tarian hujan. Tubuh ringkihku melenggung menyandar di pagar jembatan dengan tangan mendekap lutut. Berlahan kutengadahkan wajah ke langit. Tepat di atas kepalaku bintang merah itu terus menatapku dengan penuh kasihan, iba.

“Kau lihat aku sekarang... manusia lebih kejam dari srigala.”***



Joni Lis Efendi adalah penikmat sastra, menulis buku motivasi, cerpen, dan esai. Tinggal di Pekanbaru. (dipublikasikan di Riau Pos 22/11/09)

Memandang Bulan

Posted by Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd. , under | 1 komentar
Bulan itu memancar dengan warna keemasan. Aku tertegun menatapnya. Sungguh mempesona. Malam yang kelam menjadi indah dan menggairahkan. Samar-samar kulihat seorang gadis di bulan itu. Ah, ternyata dia kekasihku. Aku tersenyum memandangnya yang terlihat tengah asyik melenggak-lenggokkan tubuh eloknya di bulan itu. Matanya yang bening menatapku lekat. Jemarinya yang lentik melambai-lambai ke arahku dengan kerincing gelang-gelang mutiara.

“Johan, kenapa melamun saja?” tiba-tiba seorang gadis menegurku.
Aku menoleh menatapnya. Aku heran. Entah dari mana datangnya dia. Tahu-tahu dia telah berada di sampingku.
“Kamu siapa?” tanyaku takjub. Gadis ini sungguh rupawan. Lebih cantik dari kekasihku yang tadi kulihat sedang menari-nari di bulan.

“Hei, kamu kenapa, Johan? Kamu seperti orang linglung?” mata gadis itu menatapku dengan heran. Aku makin terpesona menatap mata indah berbulu lentik itu.

“Linglung? Oh, sungguh aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya…” mataku tak berkedip memandang wajahnya. Pipinya tampak memerah.
“Aku Salma!”

“Salma?” sekarang aku benar-benar seperti orang linglung.
“Ya, aku Salma! Kamu terkena amnesia, ya?! Aku ini kekasihmu!” gadis bernama Salma itu mulai kesal.
“Kekasihku? Ah, seingatku, kekasihku bernama Amelia, bukan Salma.”
“Johan, Johan…” gadis itu tertawa kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Amelia itu juga namaku begok! Tepatnya nama belakangku, Salma Amelia! Apa kamu sudah lupa?”
“Salma Amelia?”
“Ya, Salma Amelia!”

“Nama kekasihku Amelia Dewi, bukan Salma Amelia!”
“Amelia Dewi? Hah, siapa dia?! Siapa?! Kau selingkuh ya…!” mata indah itu membulat. Terlihat sekali betapa marahnya dia, namun bagiku mata itu makin mempesona saja.
“Aku tidak pernah selingkuh!”
“Lalu siapa Salma Amelia itu?”

“Coba kau lihat bulan itu,” ujarku menunjuk langit.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, menuruti kemauanku. Mungkin dia juga penasaran.
“Apakah kau melihat seorang gadis di bulan itu?”
Gadis di sampingku menatapku heran, lantas berkata, “Kau memang sudah gila! Lebih baik aku pergi saja!” gadis itu melangkah pergi.
“Hei, kamu mau ke mana?” aku berusaha mencegahnya.
“Besok kalau kau sudah ke psikiater, baru kau boleh temui aku lagi!”

***

Malam berikutnya aku kembali memandang bulan. Semalam bulan itu berwarna keemasan. Tapi hari ini warna bulan itu berubah menjadi ungu. Baru kali ini aku melihat bulan berwarna ungu. Samar-samar masih kulihat kekasihku tengah menari-nari dengan kerincing gelang-gelang di tangannya. Terkadang dia berputar-putar mengembangkan gaun suteranya seperti penari India.

“Kau melamun saja?” terdengar seorang gadis menegurku.
Aku menoleh, dia bukan kekasihku, bukan juga gadis yang menemuiku semalam yang mengaku-ngaku sebagai kekasihku. Tapi dia juga cantik. Bibirnya yang merah tampak mengkilat diterpa cahaya rembulan. Matanya indah dengan alis yang melengkung seperti lengkungan pelangi yang menghiasi langit kala hujan gerimis di sore hari.
“Kau siapa?” tanyaku.

Gadis itu tertawa, “Tidak biasanya kamu bercanda seperti ini?…”
“Bercanda? Aku tidak bercanda! Aku memang belum pernah melihatmu sebelumnya…”
“Benarkah kamu tak mengenaliku?!” mata gadis itu membulat.
Aku mengangguk dengan yakin.

“Lalu cincin ini pemberian siapa?” gadis itu memerlihatkan cicin perak di jari manisnya.
Aku mengendikkan bahu.
“Sudahlah, Johan! Hentikan sandiwaramu itu!”
“Hei, sandiwara apa? Aku memang tidak pernah mengenalmu!”
“Huh, lebih baik aku pergi saja!”
“Woi, kamu mau pergi ke mana?”

Gadis itu tak menoleh. Terus saja melangkah tanpa menghiraukanku lagi.

***

Masalah. Hari ini aku tertimpa masalah berat. Pekatnya mendung memang tak bersahabat tadi malam. Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Begitu cerah. Aku tak bisa melihat bulan semalam, pun kekasihku yang selalu setia menemaniku tiap malam, menghiburku dengan tarian Indianya yang gemulai.
Tapi itu bukan masalah berat yang kumaksud.

Hari ini aku tak bisa pulang. Bahkan tak tahu jalan pulang. Aku membutuhkan pertolongan. Tapi siapa yang bisa menolongku? Setiap orang yang kuminta pertolongan selalu acuh padaku. Mereka tak ada yang mau mengantarku pulang. Mereka semua egois!

“Johan? Lagi ngapain di sini?” seseorang menyapaku ramah.
“Tika?” mataku berbinar-binar melihat teman sekampusku itu telah berdiri di hadapanku. “Syukurlah kamu datang ke mari.”

“Memangnya ada apa?”
“Aku butuh pertolongnmu. Aku… aku lupa jalan pulang ke rumahku.”
“Ha ha… ada-ada saja kau ini Johan!” dia tertawa.
“Tapi aku sungguh-sungguh tak ingat jalan pulang!”
“Baiklah, manti aku antar. Sekarang aku ingin ziarah ke makam ibuku dulu. Mau ikut?”
“Ibumu?”

“Ya. Ibuku telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Hari ini hari ulang tahunnya, makanya aku ingin mendoakannya semoga ibu hidup bahagia di alam sana…”
“Amin…,” sahutku seraya melirik keranjang bunga yang dibawa Tika. Di dalam keranjang bunga itu terselip sehelai foto.

“Foto siapa itu?” tanyaku menunjuk ke dalam keranjang bunga.
Tika meraih foto itu, “Ini foto ibuku sewaktu dia masih gadis dulu.”
Aku meraih foto itu lalu memandanginya lekat-lekat. Seketika mataku terbelalak. Wanita dalam foto ini benar-benar mirip dengan gadis yang menemuiku dua hari lalu saat aku memandang bulan. Apakah ini nyata? Aku menggosok-gosok mataku tak percaya.

“Oya, akhir-akhir ini kamu sering menyendiri dan senang sekali memandang bulan purnama pada malam hari?” Tika mengalihkan perhatianku menatap foto itu.
Aku diam saja. Tak menyahut apa-apa.

“Apakah kamu belum bisa melepas kepergian Amelia, gadis keturunan India itu?”
“Dia belum meninggal, Tika! Semalam aku melihatnya tengah menari di bulan!”
“Johan, kamu tak boleh seperti ini. Masih banyak gadis lain yang mau menerima cintamu dengan tulus…”
“Tika, kau harus percaya aku! Amelia masih hidup. Sekarang antarkan aku pulang! Aku ingin memberitahu ibuku bahwa Amelia masih hidup!”

Tiba-tiba langkah kami terhenti. Di hadapan kami tergeletak sesosok mayat dengan tubuh berlumur darah. Sepertinya korban tabrak lari.
Aku dan Tika melangkah mendekati mayat itu lalu mengenali wajahnya. Betapa terperanjatnya aku, tubuh berlumur darah itu adalah diriku sendiri! Tidak, tidak mungkin!

“Johan, ayo ikut kami…” terdengar panggilan beberapa wanita di telingaku. Saat aku menoleh, kulihat Amelia, Salma dan gadis yang mengenakan cicin perak semalam melambai ke arahku. Anehnya pakaian mereka semua berwarna putih.

Saat aku menundukkan wajah, kulihat pakaianku juga telah berubah putih…***

Johan Fernando,
karyawan swasta, tinggal di Pekanbaru
(sumber : Riaupos 22/11/2009)