Latest News
Muda | Islami | Inspiratif | Ideal | Aktif
English French German Spain Italian Russian Portuguese Japanese Korean Arabic
by : BTF
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Bambang Kariyawan, M.Pd

Posted by MiNDa magazine online Selasa, 21 Juni 2011, under | 0 komentar
Tergagu di Sudut Aqsho

Kuhanya bisa tergagu
Menatap kubah Al Aqso
Keagungan tergurat nafsu
Hatiku terpasung kegalauan
Menikmati zikir di tengah keresahan
Jemari kaku saat bertasbih
Telah kebas dengan genggaman batu
Batu-batu yang selalu kudengar berteriak
“Lemparkan aku ke wajah pengkhianat”
“Biarkan aku menjadi sahid, menjadi batu penghias surga”
Kini aku tetap tergagu di sudut Aqsho
Berteman lautan batu yang setia berzikir

Penulis:
Bambang Kariyawan Ys.
FLP Wilayah Riau




Bannatii…


Bannatii …
Kuhanya bisa merangkai kata
Melukis beban absurdmu
Tidak ada lagi ruang berkelakar
Canda tawa menjadi barang ajaib

Bannatii …
Ayyash-ayyash selalu menemanimu
Walau duka kerap singgah membaluri pori-porimu
Waktu indahmu tercerabut senja
Membenamkan sebuah harapan
Bergandengan dengan damai

Bannatii …
Maafkan aku
Penulis:
Bambang Kariyawan Ys.
FLP Wilayah Riau






Kau Hapus Sejarahku!


Apakah benar ada bangsa terpilih?
Terpilih menjadi pemimpin di antara bangsa?
Apakah telah hilang sisi manusia?
Telah lupa kalian sejarah?
Bersaudara dari rahim Hawa yang sama
Bertutur silsilah dari Adam yang pertama
Genocide kah pilihan kalian?
Merobek sebuah sejarah kami dari buku perjalanan bumi?
Mungkin kalian telah lupa membaca simbol
Tembok Ratapan dan Al Aqsho selalu berdampingan
Meratap dan mentadaburi curahan duka yang kalian hempaskan
Aku yakin Tuhan akan mempergilirkan sebuah peradaban pada kami
Walau kau robek ribuan lembar sejarah kami.

Penulis:
Bambang Kariyawan Ys.
FLP Wilayah Riau
Penulis Buku Biarkan Pena Bicara

Adha di Negeri Juang

Posted by Dr. Bambang Kariyawan Ys., M. Pd. Sabtu, 28 November 2009, under | 1 komentar
Getaran lantunan takbir perlahan
menyusup sayup-sayup
mengisi sendi-sendi parau jiwa
Butiran air mata rindu
tetes demi tetes membasahi surga hati
Takbir cinta terdengar
di sekujur tubuh jagad raya
ku dengar takbir itu kembali
dalam kemah kesunyian
di negeri juang jauh
dari rona wajah mereka
ku wakilkan kisah di negeri rantau
melalui tarian pena resah
di pagi Adha di negeri juang
hapus butiran air mata rindu
tak mampu ku bendung
ku titip air mata rindu ini pada Tuhan
untuk mereka di pagi Adha
getir, sunyi, rindu
Adha di negeri juang

Muklisin Al-Bonai
Negeri Juang Bertuah, 27 Nov 2009. 05:30